ISLAM AGAMA SYUMUL

FIRMAN ALLAH SUBHANAHU WA TA'ALA; "Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah kalian ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah syaithan, kerana sesungguhnya syaithan itu adalah musuh yang nyata bagi kalian." [TMQ AL-BAQARAH(2):208]

MASA ITU EMAS


Showing posts with label ANALISIS. Show all posts
Showing posts with label ANALISIS. Show all posts

KRISIS YAMAN















Oleh:  Adnan Khan


Apa yang telah menyebabkan krisis saat ini di Yaman?


Perang melawan terorisme pimpinan Amerika memasuki fase baru pada bulan Desember 2009 ketika aksi militer dialihkan dari Afghanistan ke Yaman, dan Amerika Serikat meluncurkan rudal-rudal jelajah yang dilakukan dengan bantuan pasukan pemerintah Yaman, dengan menggunakan tank-tank, helicopter-helikopter dan artileri yang menyerbu desa-desa di pegunungan yang diduga menyembunyikan jaringan Al-Qaeda Osama bin Laden. Yaman tampaknya akan menghadapi berbagai masalah di berbagai bidang, dimana pemerintah pusat Yaman yang lemah telah gagal untuk menyelesaikannya secara diplomatis dan terus menggunakan cara-cara militer untuk memecahkannya. Yaman telah menghadapi perang saudara dengan sebagian besar penduduk Shi’ah di bagian Utara. Negara itu menghadapi gerakan separatis di bagian Selatan yang menuntut penyatuan Yaman Utara dan Yaman Selatan sebagaimana tahun 1990. Yaman juga rupanya menghadapi serangan-serangan al-Qaeda di seluruh negeri. Negeri Yaman pada hari ini adalah sebuah bangsa yang sebagian besar wilayahnya masih terbelakang dan dipimpin oleh berbagai suku, sementara pemerintah pusat tidak mampu mengubah kenyataan ini.

Mengapa ada perang saudara di Utara Yaman?


Pada tahun 1962, suatu kudeta militer mengakhiri kekuasaan imam-imam Shi’ah (Zaydi) selama berabad-abad, dengan mendirikan Republik Arab Yaman, di utara Yaman. Yaman Utara mencari persatuan dengan Yaman Selatan karena kekayaan minyaknya. Kedua pemimpin - Ali Salim al-Baidh di bagian Selatan dan Ali Abdullah Saleh di bagian Utara - mendeklarasikan sebuah perserikatan di bulan Mei 1990. Para pemilih di utara memilih sebuah partai Islam, Islah, dan Kongres Rakyat Umum Saleh (GPC). Di selatan, rakyat memilih para kandidat dari Partai Sosialis Yaman (YSP).

Perpecahan yang masih ada antara Utara dan Selatan mengakibatkan terjadinya perang saudara pada tahun 1994 yang berakhir dengan kekalahan pihak Selatan. Setelah perang, pihak berwenang San’a di selatan mendorong banyak perwira militer dan para pegawai negeri untuk pensiun, dan mengganti mereka dengan orang-orang dari utara. Pada bulan Agustus 2009, tentara Yaman melancarkan ofensif besar-besaran, yang disebut Operasi Bumi Hangus, untuk menghadapi Sa’ada, kaum Shi’ah di Utara yang melancarkan pemberontakan melawan pemerintah Yaman. Sebagian besar pertempuran terjadi di wilayah pemerintahan Sa’dah di barat laut Yaman. Pemerintah mengklaim bahwa para pejuang Houthi, yang diberi nama menurut pemimpin mereka Abdul Malik al-Houthi, berusaha mengembalikan sistem imamah Shi’ah, yang digulingkan pada tahun 1962. Klan Houthi merupakan bagian dari Mazhab Zaydi, sebuah cabang dari Shi’ah yang khas Yaman.

Sebagian besar pejuangnya adalah suku-suku yang mungkin akan meletakkan senjata seandainya mereka diberi bantuan ekonomi oleh pemerintah pusat dan konsesi-konsesi seperti jalan-jalan dan sekolah-sekolah. Ada konsensus di Sanaa bahwa pada akhirnya krisis yang terjadi di utara harus diselesaikan melalui negosiasi. Tapi untuk saat ini, strategi pemerintah pusat memaksa para pemberontak agar menjadi lemah sehingga mereka mau menerima penyelesaian secara politik. Situasi ini telah diperumit oleh keterlibatan pasukan Saudi yang berjuang bersama pemerintah Yaman yang pada gilirannya menuduh Iran mendukung para pemberontak.

Mengapa ada seruan separatis di Yaman Selatan?


100.000 orang pensiunan perwira militer di wilayah selatan dan para pegawai negeri sipil dari perang saudara tahun 1994 hanya sesekali saja menerima uang pensiun mereka. Para mantan pegawai negeri yang dipaksa pensiun itu menyerukan dipulihkannya dan ditingkatkannya uang pensiun mereka. Para mantan perwira militer ini membentuk Masyarakat Pensiunan Perwira Militer (SRMO) dan memulai serangkaian aksi duduk dan melakukan pawai protes. Pihak Selatan saat ini menuntut lebih banyak diberikannya kesempatan kerja, diakhirinya korupsi, dan menuntut bagian yang lebih besar dari pendapatan minyak untuk Wilayah Selatan. Pada pertengahan tahun 2009 gerakan di Selatan ini mulai menuntut pemisahan dan pembentukan kembali sebuah Negara Selatan. Pada bulan Juni 2009, Gerakan Selatan dilaporkan menunjuk suatu Dewan Pimpinan Revolusi Damai Selatan yang beranggotakan lima orang. Ada peningkatan ketegangan antara “penduduk selatan” dan Shi’ah di wilayah selatan, yang melihat diri mereka berbeda secara budaya dengan yang lain. Badan Pemantau HAM menguraikan alasan untuk hal ini: “Ada kaum elit di selatan Yaman yang merasa terpinggirkan, tetapi kelompok-kelompok yang mereka kepalai itu menggambarkan keluhan masyarakat yang nyata. Masyarakat ingin harga-harga yang lebih murah, pelayanan yang lebih baik, dan lebih banyak lapangan kerja. Itulah alasan mengapa mereka mendukung slogan-slogan kaum separatis. ” ( ‘Atas nama kesatuan’, menurut Laporan Badan Pemantau HAM -Human Rights Watch0, Desember 2009).

Ancaman Al-Qaeda?


Yaman adalah rumah bagi banyak Mujahidin yang berperang melawan Uni Soviet ketika Negara itu menginvasi Afghanistan. Banyak Mujahidin kembali ke Yaman setelah konflik berakhir. Pada akhir perang Afghan melawan Uni Soviet, kamp-kamp pelatihan bertebaran di Yaman terutama selama tahun 1990an. Salah satu dari kamp itu - yang berada di Huttat di selatan Yaman - adalah pangkalan bagi Angkatan Darat Aden-Abyan. Ketika terjadi peningkatan perburuan oleh Amerika atas Mujahidin (yang disebut Amerika sebagai para operator al-Qaeda) di seluruh dunia setelah 9 / 11, Yaman diberikan ultimatum oleh Amerika untuk ikut bergabung dengan perang salibnya Amerika melawan umat Islam. Sebagaimana Pervez Musharraf di Pakistan, Presiden Ali Abdullah Saleh menyerah kepada tuntutan-tuntutan Amerika dan sebagai bagian dari kesepakatan dengan Presiden Bush itu, dia menerima bantuan AS jika dia berjanji untuk mengumpulkan mantan Mujahidin. Pemerintah di San’a memerlukan bantuan Mujahidin pada perang saudara tahun 1994 untuk melawan Selatan - terutama mantan kelompok Marxis - yang berusaha untuk memisahkan diri. Ini semua berubah ketika kapal induk USS Cole di Aden diserang pada bulan Oktober tahun 2000 dimana 17 orang pelaut Amerika terbunuh. Peristiwa  11/9 hanya meningkatkan tuntutan-tuntutan Amerika di Yaman.

Seberapa besar krisis ini disebabkan oleh campur tangan asing?


Baik Pemerintah Arab Saudi maupun Pemerintah Yaman telah berusaha untuk mengkaitkan Kaum Houthi  dengan Iran,  dengan memberikan bukti-bukti bahwa keduanya adalah Shi’ah walaupun Shi’ah Yaman adalah Zaydi, sementara Syi’ah Iran sebagian besar adalah Itna Ashar’I (Dua Belas Imam). Arab Saudi telah lama terganggu oleh meningkatnya pelanggaran hukum yang dilakukan oleh Yaman, perbatasan dimana dengan mudahnya orang keluar-masuk, dan kemampuan penduduk setempat untuk menyeberang perbatasan semaunya. Arab Saudi pada saat ini memaksakan adanya suatu zona penyangga perbatasan (buffer zone) selebar 10 km yang berada di dalam perbatasan Yaman.

Atas perintah Presiden Barack Obama, militer Amerika Serikat mulai melancarkan serangan-serangan rudal jelajah pada tanggal 20 Desember 2009 atas dua tempat yang dicurigai sebagai markas al-Qaeda di Yaman. Amerika saat ini melakukan campur tangan secara langsung di Yaman. Amerika hingga saat ini menggunakan pendekatan beri umpan dan beri hukuman (carrot and stick) atas pemerintah Yaman. Pasukan Khusus Yaman dilatih dengan bantuan Amerika untuk melakukan serangan yang berdasarkan data intelijen Amerika sejak Ali Abdullah Saleh bergabung dengan perang melawan terror Amerika.  Serangan-serangan semacam itu  merupakan peningkatan utama dari serangan-serangan yang dilakukan oleh pemerintahan Obama di wilaya itu.

Apakah Amerika Serikat mempunyai kepentingan strategis di kawasan itu?


Bagi Amerika dan bagi siapapun, Laut Merah dan Teluk Aden akan selalu merupakan sebuah kawasan terusan yang strategis. Lebih dari 30% semua minyak mentah dan lebih dari 10% perdagangan global melewati daerah ini.  Amerika juga telah gagal untuk mendapatkan kemenangan di Somalia - yang berada di seberang Negara Yaman dan memiliki garis pantai dengan Teluk Aden dan sebagai akibatnya memfokuskan penguasaan wilayah itu melalui laut. Terlihat tampak kehadiran kapal-kapal perang asing di Teluk Aden dan di sepanjang garis pantai Somalia. Ada kapal-kapal perang dari Armada Kelima Angkatan Laut AS di kawasan itu, yang pada akhir-akhir ini menjadi pusat pembajakan atas sejumlah kapal internasional. Menariknya sebagian besar kapal-kapal yang dibajak adalah kapal-kapal Eropa, dan tidak ada kapal-kapal Amerika, yang hadir di sana dalam jumlah yang besar, yang pada kenyataannya, di bawah kendali Amerika-lah serangan-serangan itu dilakukan.

Komando Sentral Amerika Serikat mendirikan Wilayah Patroli Keamanan Laut (MSPA), suatu wilayah zona patroli tertentu di Teluk Aden pada bulan Agustus 2008. Walaupun perbatasan-perbatasannya adalah wilayah yang  sempit, yang berbentuk persegi panjang antara Somalia dan Yaman, dan berada di dalam kawasan Utara teluk. Dari hal ini tampaknya Amerika sedang membangun sebuah pangkalan militer permanen di Teluk Aden untuk melindungi kepentingannya di Afrika dan menggunakan ketidakmampuan rezim Yaman untuk menangani isu-isu dalam negeri untuk membenarkan kehadirannya di jalur terusan yang sangat penting itu. Seorang pejabat senior militer Perancis yang namanya tercantum dalam Asharq Alawsat pada tanggal 28 Oktober 2008 mengatakan “dengan mengerahkan pasukannya di Jibouti, Amerika bertujuan untuk memastikan kehadiran permanennya di tanduk Afrika di pusat konflik di Yaman, Somalia dan bahkan Sudan.”

Sebagai kesimpulan, tampaknya serangan-serangan yang dilakukan Amerika di Yaman sesuai dalam tujuan-tujuan Amerika untuk mengontrol Teluk Aden setelah mereka gagal mengalahkan rezim Somalia dan dikarenakan kepentingan-kepentingan strategis umum Amerika di Afrika. Sebagaimana ketidakmampuan pemerintah Sudan  untuk menangani apa yang awalnya adalah perbedaan-perbedaan kesukuan di negeri mereka maka Amerika kemudian campur tangan dan kemudian menggunakan konflik itu untuk mencapai tujuan pengendalian kekayaan minyak Sudan. Tampaknya Amerika menggunakan ketidakmampuan rezim Yaman untuk menangani masalah-masalah dalam negeri untuk ikut campur dalam urusan negeri itu dan kemudian mendirikan kehadiran permanen di perairan strategis di Aden.

Sumber: www.khilafah.com (27/12/2009)

BENARKAH EKONOMI DUNIA TELAH PULIH?


http://hizbut-tahrir.or.id/wp-content/uploads/2008/12/krisis-dunia.jpg

Fatamorgana Pemulihan Ekonomi

Saat mengenang terjadinya Depresi Besar 60 tahun silam, Biro Analisa Ekonomi Departemen Perdagangan AS mengeluarkan perkiraan bahwa ekonomi AS mulai tumbuh setelah 4 kwartal berturut-turut mengalami penurunan. Kalau benar, maka AS telah memulihkan ekonominya bersama Jepang, Cina, Jerman, dan Perancis, dan berhasil menghindari keambrukan ekonomi total. Sebagian kalangan menganggap hal ini merupakan tanda-tanda kebangkitan ekonomi dan berakhirnya ‘resesi besar’.

Untuk memahami anggapan ini maka kita perlu meneliti penyebab resesi dan menganalisa apakah penyebab tersebut masih ada atau sudah dihapus dengan kondisi ekonomi tertentu yang akan menstimulasi pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan. Pertumbuhan ekonomi Barat dalam satu dekade didorong oleh ‘real estate bubble’ (penggelembungan harga sektor perumahan)  yang dipimpin AS dan menstimulasi ekonomi negeri barat lainnya. Penggelembungan besar-besaran terjadi karena bank membuat berbagai produk keuangan yang berbasis hutang, yang lalu dijual ke bank lain dengan asumsi bahwa penggelembungan akan terus terjadi.
Ambruknya perusahaan kredit terbesar dunia New Century Inc di bulan April 2007, Northern Rock di February 2008, yang juga diikuti AIG, Lehman brothers dan bank-bank lainnya membuktikan bahwa gelembung yang terjadi memang rentan dan terjadi karena asumsi spekulatif bahwa harga ‘real-estate’ (perumahan) akan terus naik.

Jatuhnya harga rumah membuka borok praktek pemberian hutang yang dilakukan para bank dimana bank-bank tersebut terpaksa untuk membatalkan hutang senilai trilyunan dolar yang telah mengalami jatuh tempo dalam waktu bersamaan. Bank-bank yang awalnya menampung dana deposito dari nasabah dan memberi pinjaman kepada pebisnis akhirnya harus menghentikan semua aktifitas tersebut secara mendadak. Maka krisis yang bersifat finansial akhirnya juga merusak perekonomian riil dimana produktifitas menurun, perusahaan berjatuhan, dan pengangguran naik. Maka perekonomian Barat yang bertumpu pada sektor perumahan pun kehilangan energinya.

Untuk menghindari bencana ekonomi yang lebih besar, pemerintahan Barat melakukani intervensi kolosal untuk menyelamatkannya dari keambrukan total. Idenya adalah ketika masyarakat sudah tidak mampu lagi untuk membelanjakan uangnya untuk menggerakan roda ekonomi, maka negara akan memberikan dana untuk menstimulasi bergeraknya ekonomi, memberikan rasa percaya diri, dan menumbuhkan ekonomi kembali. Pemerintahan Barat mengambil tiga langkah kunci dalam menghadapi krisis: nasionalisasi, paket stimulus, dan mencetak uang kertas.

Analisa Pemulihan Ekonomi

Kalangan ekonom dan pembuat kebijakan mengatakan bahwa ekonomi Barat telah tumbuh antara April dan Juni 2009 sehingga menunjukkan berakhirnya resesi besar. Jerman telah kehilangan 6.7% pendapatan domestinya selama resesi. Jerman adalah jantung industri Eropa dan tergantung kepada eksport untuk menunjang pertumbuhan ekonominya. Maka permasalahan terbesar yang Jerman hadapi adalah ambruknya perdagangan global, yang diprediksikan akan mengkerut sebesar 10% menurut World Trade Organisation (WTO).

Akan tetapi kebijakan populis yang dibuat Kanselir Angela Merkel dan perjanjian untuk mensuplai Rusia dengan mobil Jerman menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi yang terjadi di Jerman adalah akibat faktor sementara dan bukan karena ada perubahan sistem ekonomi secara mendasar. Di bulan Februari 2009, Jerman menyetujui paket stimulus sebesar 50 trilyun Euro. Jerman juga meluncurkan program daur ulang kendaraan di bulan Februari dimana pengendara mobil menerima uang tunai untuk mendaur ulang mobil tuanya dan membeli mobil baru — sehingga bisa membangkitkan penjualan mobil dari industri kendaraan. Program ini cukup sukses karena telah menjaring tidak kurang dari 1,7 juta pemohon warga jerman.Pemerintah Perancis mengumumkan paket stimulus senilai 26 trilyun euro untuk membangkitkan ekonominya. Perancis dan Jerman mulai keluar dari resesi karena sektor keuangannya hanya berkontribusi sebagian kecil saja dari keseluruhan ekonominya.

Penurunan total untuk Jepang berkisar sekitar 8,4%. Paket stimulus pemerintah Jepang berkisar sekitar 260 trilyun dolar untuk menstimulasi kembali ekonominya dalam bentuk pemberian dana tunai dan subsidi untuk membeli mobil berenergi efisien dan peralatan rumah tangga.

Kalau AS keluar dari resesi maka ia akan kehilangan pendapatan sekitar 3,7%. Kwartal ketiga GDP menunjukkan bahwa penjualan barang di bulan Agustus mengalami peningkatan sekitar 2,2% dari bulan sebelumnya, yang merupakan peningkatan tertinggi sejak bulan Januari 2006. Namun peningkatan di bulan Agustus ini didukung oleh kenaikan penjualan mobil sekitar 11,6%, yang merupakan hasil dari insentif bagi pemilik mobil untuk mengganti mobil lamanya dengan mobil baru. Ketika program insentif ini berakhir, maka penjualan pun menurun 1,5% di bulan September.
Distorsi Paket Stimulus

Ketika krisis ekonomi mencapai puncaknya, banyak negeri Barat mengeluarkan paket stimulus untuk menyelematkan ekonominya dari keambrukan, dimana paket tersebut bernilai hingga 1200 trilyun dolar di tahun 2008. Namun stimulus apapun hanyalah sekedar tambal sulam yang tidak akan tahan lama. Stimulus diberikan hanya untuk menyalakan kembali mesin ekonomi yang telah mati dan bukan untuk menjalankannya sehingga bisa berjalan secara berkesinambungan. Maka pertumbuhan yang terlihat sejauh ini tidak lebih dari sekedar efek sementara saja.
Inisiatif pemerintah seperti program daur ulang mobil, penurunan pajak di UK, dan pemotongan pajak bagi pembeli rumah pertama sebagaimana terlihat di AS dan Perancis berkontribusi kepada 1% dan 0,5% kenaikan GDP sehingga menaikkan penjualan kendaraan bermotor dan investasi real estate. Maka ketika program ini berakhir, maka berakhir pula kontribusinya kepada ekonomi.

Ekonom Brian Bethune dari IHS Global Insight berkomentar tentang berakhirnya resesi,” Sangatlah bagus melihat ekonomi mulai menggeliat kembali, tetapi kita tidak tahu seberapa jauh pertumbuhan ini bisa terus berlanjut, karena adanya paket stimulus dari pemerintah. Tantangannya adalah mendapatkan pertumbuhan ekonomi sejati, bukan pertumbuhan yang disubsidi dengan steroid keuangan.” Pengangguran saat ini berkisar sekitar 9,8% di AS atau sekitar 15 juta penduduk.

Ketika melihat kualitas pertumbuhan ekonomi akan terlihat bahwa pertumbuhan tersebut lebih bersifat sementara. Dana Saporta, ekonom dari Stone & McCarthy Research di Skillman, New Jersey menguatkan hal ini,” Kekuatan ekonomi di AS saat ini ditopang oleh faktor yang bersifat sementara seperti stimulus keuangan seperti insentif kredit pembelian rumah”

Adalah suatu fakta bahwa stimulus yang diberikan pemerintah sangatlah penting karena kalau itu dihentikan maka sangatlah mungkin ekonomi dunia Barat akan terancam untuk jatuh ke dalam resesi lagi. Paket stimulus telah memicu pertumbuhan palsu. Kita memang masih harus melihat apakah memang ‘pasar bebas’ (free market) benar-benar bisa tumbuh lagi ketika ia ‘bebas’ dari bantuan pemerintah. Sebentar lagi musim natal akan tiba, yang akan menjadi barometer tingkat penjualan untuk mengukur aktifitas konsumen, tanpa adanya ‘stimulus’. Dengan tingkat pengangguran yang tinggi, produksi nasional masih lemah dan hutang masih tinggi maka stimulus yang dikeluarkan masih terlalu dominan. Dengan demikian, pertumbuhan ekonomi akan bersifat sementara dan sulit untuk bisa berkelanjutan.

Kesimpulan
AS yang merupakan ekonomi terbesar di dunia nampak mulai keluar dari resesinya. Namun, AS masih sangat tergantung kepada aktifitas konsumennya, yang berkontribusi kepada 70% dari GDPnya, sedangkan eksport hanya sekitar 11% saja. Sehingga aktifitas pembelian yang dilakukan konsumen warga AS menjadi sangat penting untuk AS, dan hingga kini aktifitas konsumen AS belum menampakkan tanda-tanda pemulihan.

Paket stimulus yang diberikan pemerintah di dunia Kapitalisme tidak menyentuh problema ekonomi yang fundamental yaitu pertumbuhan yang tidak berkelanjutan, pertumbuhan yang didorong oleh hutang, keuangan bermotif judi dan ekonomi gelembung. Manfaat dari paket stimulus hanya bersifat sementara bagi ekonomi kapitalisme yang terancam dengan tingginya angka pengangguran, penggadaian, dan kebangkrutan.

Maka, ketika secara statistik ekonomi kapitalisme menunjukkan tanda-tanda perbaikan, fakta di lapangan justru menunjukkan sebaliknya. Campur tangan sosialisme yang dilakukan pemerintahan kapitalis (dengan mengeluarkan paket stimulus) memang menghentikan arus resesi dan menghindari keambrukan total. Namun, ketika paket tersebut dihentikan, maka sangatlah kecil pasar bebas masih bisa tumbuh dengan bebas (atau dengan sendirinya tanpa campur tangan pemerintah). Maka, posisi ekonomi tidak jauh berbeda dibanding satu tahun yang lalu.
Ketika mayoritas masyarakat Kapitalis semakin terancam dengan prospek pengangguran dan penggadaian, mereka juga tidak akan mendapatkan bantuan dana tunai untuk mempermudah situasi mereka. Kenyataannya, paket stimulus yang dikeluarkan pemerintah justru digunakan oleh industri perbankan untuk memberikan bonus kepada bankirnya. Ini menunjukkan bahwa komitmen konferensi G20 tidak lebih hanya sekedar untuk konsumsi publik. Pemerintah Barat masih belum mampu untuk mengeluarkan peraturan untuk menghentikan pemberian bonus kepada para bankir yang bermasalah.

Dalam situasi seperti muslim tidak bisa berharap banyak kepada kapitalisme. Resesi dan bencana sebenarnya bisa dihindari dalam sistem ekonomi Islam yang bertopang pada emas dan perak. Sistem ekonomi Islam juga melarang bunga, uang kertas, kepemilikan perusahaan yang tidak jelas, pengaturan yang jelas tentang pembedaan kepemilikan pribadi, negara, dan umum.

Adalah aset umat speerti minyak, gas, dan mineral tambang yang masih dikuasai oleh rezim yang menggunakannya untuk kepentingan pribadi dan mempertahankan status quo. Ini tidak akan berubah hingga terjadi perombakan yang bersifat menyeluruh dengan tegaknya kembali ekonomi Islam dibawah naungan Khilafah. Hingga saat itu terjadi, pemulihan ekonomi hanya akan bak fatamorgana.
(sumber : http://www.khilafah.eu/kmag
URL to article: http://www.khilafah.eu/kmag/article/the-mirage-of-economic-recovery December 1, 2009 (12:03 am)

SIAPA DALANG DISEBALIK PERANG YAMAN?


Sejak lebih dari lima tahun, dan hingga saat ini perang yang berlangsung di utara Yaman, masih diselimuti oleh insiden-insiden berdarah yang telah menghilangkan ratusan nyawa, mengusir ribuan manusia, dan menghancurkan tidak sedikit harta benda. Sementara pihak-pihak yang berperang tidak ada upaya untuk menghentikan perang. Sungguh, situasi ini mengingatkan kita terhadap apa yang terjadi di Sudan selama puluhan tahun, di mana pihak-pihak yang berkonflik tidak pernah sampai pada sebuah solusi untuk mengakhiri masalah ini, hingga dibuat berbagai kesepakatan yang disusun oleh badan-badan intelijen Barat!!


Sesungguhnya, masalah perang Sa’ada hanyalah salah satu dari agenda konflik Inggris-Amerika di Yaman. Konflik ini sudah lama terjadi di antara musuh-musuh umat, yaitu Inggris dan Amerika, yaitu sejak kudeta terhadap sistem imamiyah, atau yang disebut dengan revolusi Yaman pada tahun 1962, intervensi Barat di Yaman, dan konflik yang begitu intens antara intelijen Inggris dan intelijen AS, sehingga terjadilah perang di antara dua wilayah Yaman, kudeta militer, dan pembunuhan terhadap para pemimpin yang dilakukan oleh badan-badan intelijen Barat, dan para antek di wilayah setempat, sampai selesainya penyatuan Yaman pada tahun 1990, dan konflik antara kedua belah pihak juga masih berlangsung sampai perang tahun 1994.

Setelah perang, semua menjadi jelas, Inggris merealisasikan rencana lamanya, yaitu menyatukan di antara dua wilayah Yaman. Dalam hal ini, Inggris telah mampu menjalankan rencana-rencananya, dan membelenggu para antek Amerika di Yaman dengan bantuan para anteknya di wilayah setempat, seperti Yordania dan Irak pada waktu itu.

Adapun sikap Saudi Arabia yang terus-menerus berupaya untuk mencegah bersatunya di antara dua wilayah Yaman, mengingat Yaman terletak di sisi Arab Saudi, sehingga Arab Saudi tidak ingin ada negara yang lebih kuat dari dirinya di Jazirah Arab, dan Arab Saudi tetap menginginkan Yaman ada dalam belas kasihnya. Ketika ia melihat ancaman Iran, dan menyadari bahwa ia adalah korban dari rencana pembagian ala Amerika, serta ia juga melihat Yaman sebagai korbannya, dan dengan perintah Inggris, maka ia mendukung rezim reformasi pada awalnya. Namun, ketika ia melihat bahwa tentara Yaman tidak mencapai kemajuan di wilayah itu, maka ia pun memasuki perang secara langsung, dan terlibat dalam perang di perbatasan-yang dirancang oleh kaum kafir penjajah-bersama kelompok Houthi.

Hanya saja masalahnya tidak berhenti hanya di sini, sungguh Amerika telah melakukan berbagai aktivitas politik, ekonomi dan sosial untuk melawan rezim reformasi sejak berlasungnya penyatuan. Kemudian, Amerika menggerakkan kedutaannya untuk merekrut para antek, dan dalam hal ini Institut Demokrasi Amerika memainkan peran utama dalam mengadakan seminar, dan pertemuan-pertemuan dengan tokoh-tokoh berpengaruh di masyarakat. Amerika mengirim para ahli untuk melatih tentara Yaman, terutama pasukan khusus. Amerika menggerakkan Iran untuk melakukan berbagai aktivitas di Yaman. Amerika membuat tekanan pada rezim reformasi dan organisasi-organisasi internasional, seperti Bank Dunia, dan program-program rehabilitasi yang justru membuat rakyat Yaman semakin tenggelam dalam kemiskinan. Amerika mengungkap sejumlah permasalahan, seperti pengangguran, dan lain-lainnya.

Dengan demikian, perang Sa’ada sebenarnya adalah masalah konflik antara Inggris dan Amerika, begitu juga dengan insiden-insiden di Selatan. Amerika mendukung para pemimpin gerakan di luar negeri, seperti al-Baidh, al’Athas, dan Ali Nashir. Melalui pernyataan yang disampaikan oleh pejabat tinggi Inggris bahwa mereka “mendukung kesatuan dan stabilitas di Yaman, dan mendukung pemerintah reformasi secara politik, ekonomi, dan bahkan militer jika diperlukan,” dan bahkan para pemimpin Uni Eropa membuat pernyataan seperti itu juga, terkait pernyataan-pernyataan Amerika tentang “harusnya menghentikan perang demi para pengungsi!” Namun, di mana belas kasihan Amerika terhadap para pengungsi di Afghanistan, Irak, Pakistan, Somalia, dan di tempat lainnya.

Artinya, bahwa Inggris dan kepentingannya berupaya untuk mempertahankan kesatuan, dan mencegah infiltrasi Amerika ke Yaman melalui Iran dan Syiah Yaman, dan melalui Ali Salim al-Baidh. Sementara Amerika berusaha menjatuhkan rezim reformasi, dan memecah-belah Yaman seperti apa yang sedang terjadi di Sudan. Namun, apakah penduduk Yaman menyadari apa yang sedang direncanakan terhadap mereka, dan apa yang sedang disusun oleh para musuh mereka, sehingga mereka memiliki sikap yang sama untuk menghentikan semua rencana jahat penjajah Barat, dan jika tidak, maka nasib mereka akan sama dengan nasib Somalia, Afghanistan, dan Sudan.

Kepala Biro Informasi Hizbut Tahrir Wilayah Yaman
20 Dzul Hijjah 1430 H./14 Desember 2009 M.

sumber : Hizbut Tahrir Indonesia

PENGAKUAN MANTAN JENERAL SOVIET & PAKAR TENTANG KEKALAHAN SOVIET DI AFGHANISTAN


Pengakuan Mantan Jenderal Soviet dan Pakar:

Jihad dan Dukungan Masyarakat yang Membuat Soviet Kalah di Afghanistan



HTI-Press. Para veteran Afghanistan dan pakar mengakui semangat jihad fi sabilillah para mujahidin dan dukungan rakyatlah yang membuat Soviet kalau di Afghanistan. Wartawan BBC Richard Galpin telah berbicara dengan beberapa pakar dan veteran, yang mengenang penarikan mundur pasukan Uni Soviet pada 1989 setelah 10 tahun pendudukan, sebagai pengalaman traumatis dan mempermalukan.

Hal ini dinyatakan veteran perang Afghanistan dan pakar. Menurut mereka sebagian pejuang perlawanan (Mujahideen) adalah aktivis muslim berhaluan radikal yang berkeyakinan berperang melawan orang komunis tak ber-Tuhan adalah jihad. Dan, faktor yang ikut menentukan pejuang Afghanistan mendapat dukungan dari warga masyarakat. Menurut beberapa pengamat nasib AS dan Nato tidak akan jauh dengan Soviet.

Letjen (Pur) Ruslan Aushev, pria dengan kumis menggantung di atas mulutnya seperti tirai beludru tebal. Namun, mulutnya keluar kata-kata yang tepat dan lugas pantas untuk sosok panglima militer Uni Soviet yang mengantungi banyak medali penghargaan atas keterlibatannya dalam aksi militer di Afghanistan pada 1980-an.

“Kami berada di sana selama 10 tahun, dan kami kehilangan lebih dari 14.000 tentara, tapi apa hasilnya? Nol,” ujar Aushev selagi kami bertemu di kantornya di salah satu bilangan jalan ternama di jantung kota Moskow.


Konvoi pasukan Uni Soviet ditarik mundur dari Afghanistan Februari tahun 1979


Kami ingin mendatangkan perdamaian dan stabilitas ke Afghanistan, tapi kenyataannya semuanya memburuk

Pengakuan terang-terangan mengenai kegagalan ini umum terdengar di kalangan para veteran Rusia yang menghadiri rangkai acara akhir pekan ini , tepat 20 tahun, untuk mengenang genap 20 tahun setelah untuk tentara terakhir Soviet ditarik dari Afghanistan.

AS Masuk Dalam Jebakan yang Sama?

Kini hanya 20 tahun kemudian, orang Rusia dengan terheran-heran mencermati cara pasukan Amerika dan Nato melancarkan perang di Afghanistan.

Moskow melihat bahwa pasukan Barat sama sekali tidak memetik pelajaran dari pengalaman getir Uni Soviet.Sebaliknya mereka justru jatuh ke dalam jebakan yang sama.

Satu contoh utama adalah rencana Amerika saat ini untuk mengerahkan balabantuan puluhan ribu serdadu ke Afghanistan.”Menambah pasukan mereka tidak akan mendatangkan solusi di lapangan,” kata Kolonel (Purn) Oleg Kulakov, yang dua kali bertugas di Afghanistan dan kini menjadi dosen dan sejarawan di Moskow.

“Konflik ini tidak bisa dipecahkan dengan cara-cara militer, itu ilusi,” tambah Kulakov,

“Tidak seorang pun bisa mencapai tujuan politik di Afghanistan dengan mengandalkan pasukan militer. Jujur saja, mereka pasti akan mengulangi kekeliruan kami,” tandasnya.

Persamaan yang Menyolok


Konflik ini tidak bisa dipecahkan dengan cara-cara militer, itu ilusi

Sekali lagi, pasukan asing penyerbu di Afghanistan mencoba menstabilkan pemerintahan yang bersahabat kepada orang asing. Sekali lagi, mereka menghadapi mujahidin Islam antara lain “Taleban”.

Sekali lagi, pejuang bertambah kuat dan mendapat dukungan yang meningkat dari masyarakat sementara pasukan pendudukan menimbulkan korban jiwa sipil yang terus bertambah.

Mantan Dubes Inggris untuk Moskow, Sir Roderick Braithwaite khawatir intervensi yang dimotori Amerika Serikat dan Nato mungkin akan terbukti menjadi bencana seperti campur tangan Uni Soviet.

“Kita masuk dengan tujuan awal terbatas, namun seperti Rusia berharap bahwa mereka bisa membangun sosialisme di Afghanistan, kita berharap kita bisa membangun demokrasi,” kata Sir Roderick Braithwaite.

“Kita tidak memiliki cukup pasukan di sana untuk mendominasi wilayah tersebut, dan kita memiliki pemerintah di Kabul yang kekuasannya hampir-hampir tidak berjalan di ibukota, apalagi di luarnya,” katanya


Mujahiddin mengangkat senjata untuk melawan Uni Soviet

Seperti pada tahun 1980-an, pasukan asing menghadapi perlawanan para mujahidin .”Kita tidak memiliki strategi jangka panjang, dan tidak seperti Rusia, kita telah berada di sana selama delapan tahun, tapi bahkan tidak mulai merencanakan untuk pulang,” tambah Sir Roderick Braithwaite .

Tidaklah mengherankan kalau para penjajah berupaya menghapuskan kewajiban jihad fi sabilillah ini di tengah-tengah umat Islam. Mereka mendapat pelajaran yang penting, kalau umat Islam berjuangan berdasarkan aqidah Islam untuk berjihad fi sabilillah mengusir musuh, umat Islam sulit untuk dikalahkan.

Untuk menghapuskan kewajiban jihad ini negara-negara Barat juga memanfaatkan kelompok liberal di negeri-negeri Islam yang berusaha mendistorsi kewajiban jihad dalam makna sejatinya yakni perang di jalan Allah untuk menegakkan kalimatullah. Ungkapan menyesatkan yang sering mereka sebut : jihad terpenting adalah melawan hawa nafsu, apapun kalau sungguh-sungguh bisa disebut jihad, orang yang berjihad adalah orang yang takut hidup, dan tuduhan-tuduhan keji lainnya.

Para propagandis ideologi Barat ini tidak lain adalah kaki tangan negara penjajah untuk melemahkan kaum muslim dan mengokohkan penjajahan di negeri Islam.

(Farid Wadjdi; diolah dari sumber BBB online 15/2/2009)

ANALISIS POLITIK


AMERIKA DI BELAKANG BAJAK LAUT DI TELUK ADEN



Berikut terjemahan soal jawab tentang Bajak Laut di Teluk Aden yang diterjemahkan dari artikel berbahasa Arab yang diambil dari situs Ameer Hizbut Tahrir, Shaykh Ata Ibn Khaleel Abu Al-Rishta.

Latar Belakang


Pejabat Ethiopia mengumumkan bahwa Ethiopia memutuskan untuk menarik pasukannya dari Somalia pada akhir tahun ini. Pernyataan ini keluar di saat melonjaknya aktifitas bajak laut di Teluk Aden sepanjang pantai Somalia beberapa bulan terakhir, terutama dengan kabar dibajaknya tanker minyak milik Saudi yang membawa tidak kurang dari dua juta barel minyak mentah. Di saat yang bersamaan, media massa juga mengutip pernyataan Abdullah Yousuf, Presiden transisi Somalia yang mengatakan bahwa kelompok Al-Shabaab atau Gerakan Mujahideen Muda Somalia telah menguasai hampir seluruh wilayah Somalia dan sedang bersiap untuk mengambil alih ibukota Somalia, Mogadishu. Pasukan Ethiopia yang selama ini menanggung banyak korban secara terpaksa harus bertahan di Somalia dengan penuh keluhan.


Beberapa kantor berita juga telah menyiarkan ucapan Menlu Ethiopia pada konferensi para menteri luarnegeri yang tergabung dalam IGAD (yang terjadi di Addis Ababa tanggal 18 November 2008) bahwa,” Saya ingin menekankan bahwa pasukan Ethiopia tidak mau berkorban dan memikul tanggungjawab sendirian untuk selamanya. Orang lain juga harus ikut aktif berperan dalam memberikan pesan terhadap kepemimimpinan di Somalia di masa kritis seperti ini.” Baca selanjutnya...!

 

MENGENAL HIZBUT TAHRIR