ISLAM AGAMA SYUMUL

FIRMAN ALLAH SUBHANAHU WA TA'ALA; "Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah kalian ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah syaithan, kerana sesungguhnya syaithan itu adalah musuh yang nyata bagi kalian." [TMQ AL-BAQARAH(2):208]

MASA ITU EMAS

HARAM MENERIMA HILLARY


Haram Menerima Hillary

HTI-Press. “Sebagai tuan rumah yang baik, kita harus memperlakukan tamu dengan baik. Bukankah Islam memerintahkan kita untuk ikrâm al-dhuyûf (memuliakan tamu)?” ujar seorang menteri di depan massa sebuah organisasi Islam ketika menanggapi demo menolak kedatangan Goerge W. Bush ke Indonesia dua tahun lalu. Untuk memperkuat argumennya, menteri itu pun mengutip satu Hadits yang memerintahkan kaum Muslim memuliakan tamu: Man kâna yu’minu bil-Lâh wa al-yawm al-âkhir falyukrim dhayfahu (barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah dia memuliakan tamunya).

Kini, ketika Hillary Clinton datang ke Indonesia, menteri itu tidak mengeluarkan pernyataan serupa. Namun, sangat bisa jadi alasan yang sama juga digunakan untuk menerima kedatangan menlu AS yang baru.

Benarkah para pemimpin negara penjajah itu layak disebut sebagai tamu sehingga pantas disambut baik dan dimuliakan? Apalagi harus menguras anggaran negara yang tidak sedikit?

Dua Katagori Kaum Kafir

Memang benar bahwa kaum Muslim diperintahkan memuliakan tamu. Dalam Hadits itu, lafadz dhuyûfahu juga bersifat umum sehingga mencakup seluruh tamu. Kendati demikian, ada nash-nash lain yang harus diperhatikan ketika tamu yang diterima adalah orang kafir. Apalagi pemimpin negara kafir, yang gemar memerangi Islam dan umatnya.

Dalam bermuamalah dengan kaum kafir, Islam membagi mereka menjadi dua katagori. Pertama, orang kafir yang tidak sedang memerangi dan mengusir umat Islam dari negeri mereka. Terhadap mereka, kaum Muslim diperintahkan berbuat baik dan bersikap adil terhadap mereka. Allah Swt berfirman:

لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ

Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil (TQS. al-Mumtahanah [60]: 8).

Diriwayatkan Ahmad dari Abdullah bin al-Zubair, suatu saat Asma binti Abu Bakar kedatangan ibunya, bernama Qutailah bin Abd al-Uzza, dan membawa hadiah untuknya. Karena ibunya seorang wanita musyrikah, Asma’ keberatan menerimanya. Bahkan, ibunya pun tidak dipersilakan masuk rumahnya sebelum dia mendapat izin Rasulullah Saw. Ketika hal itu ditanyakan kepada Rasulullah saw, lalu turunlah ayat ini. Beliau pun memerintahkan untuk mempersilakan masuk Ibunya dan menerima hadiahnya (lihat: Sihabuddin al-Alusi, h al-Ma’ânî; al-Baghawi, Ma’âlim al-Tanzîil).

Kendati ayat ini turun berkenaan dengan Asma’, namun –sebagaimana ayat ini berlaku umum (lihat: Ibnu Jarir al-Thabari, Jâmi’ al-Bayân fî Ta’wîl al-Qur’ân dan al-Jazairi, Aysar al-Tafâsîr). Sehingga ayat ini tidak dikhususkan pada suatu kelompok tertentu, seperti Bani Khuza’ah yang terikat perjanjian damai dengan Rasulullah saw atau kaum musyrik Makkah pasca perjanjian Hudaibiyyah. Semua orang kafir yang memiliki dua sifat seperti yang dinyatakan ayat ini, termasuk di dalamnya. Mereka adalah orang-orang kafir yang tidak memerangi kaum Muslim karena agama; dan tidak melakukan pengusiran terhadap kaum Muslim dari negeri mereka.

Dijelaskan oleh al-Syaukani dalam Fath al-Qadir, kaum kafir yang dimaksud adalah kaum kafir dari kalangan ahl al-‘ahd yang sedang melakukan perjanjian damai dengan kaum Muslim.

Terhadap orang-orang yang bersikap demikian, umat Islam diperbolehkan untuk berbuat baik dan berlaku adil. Dalam ayat ini disebutkan: ‘an taburrûhum wa tuqsithû ilayhim. Menurut Ibnu Katsir, kata taburrûhum berarti tuhsinû ilayhim (berbaik baik terhadap mereka). Sementara kata tuqsithû ilayhim bermakna tu’dilû (berlaku adil). Penjelasan senada juga dikemukakan oleh al-Baghawi dalam tafsirnya, Ma’âm al-Tanzîl.

Al-Qurafi menjelaskan cukup rinci mengenai perbuatan yang dapat dikatagorikan sebagai perbuatan baik dan adil tersebut. Di antaranya adalah bersikap ramah dengan mereka yang menjadi tamu, mencukupi kebutuhan mereka yang fakir mereka, memberikan makan mereka yang lapar, memberikan pakaian mereka yang telanjang, berkata lembut dengan mereka yang disebabkan kelemahlembutan dan kasih sayang, bukan karena rasa takut dan hina, mendoakan mereka agar diberi hidayah dan dijadikan sebagai orang yang berbahagia, menasihati mereka dalam perkara agama dan dunia, menjaga harta, keluarga, kehormatan, serta semua hak dan kemaslahatan mereka, menghilangkan kezaliman yang menimpa mereka, dan menyampaikan seluruh yang menjadi hak mereka. Demikian penjelasan al-Qurafi dalam kitab al-Furûq.

Meskipun diungkapkan dengan menggunakan kalimat berita, dan dinyatakan: Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil, namun kandungan ayat tersebut berisi perintah. Bahwa umat Islam diperintahkan untuk berbuat baik dan berlaku terhadap orang-orang yang tidak memerangi mereka dan tidak mengusir mereka. Hal ini dapat disimpulkan dari firman Allah Swt dalam akhir ayat ini: InnaLlâh yuhibbu al-muqsithîn (sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil). Ungkapan ini jelas merupakan perintah kepada umat Islam untuk berlaku adil, termasuk terhadap mereka.

Kedua, kaum kafir yang memerangi dan mengusir kaum Muslim dari negeri mereka, serta yang turut membantu mereka. Allah Swt berfirman:

إِنَّمَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ قَاتَلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَأَخْرَجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ وَظَاهَرُوا عَلَى إِخْرَاجِكُمْ أَنْ تَوَلَّوْهُمْ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ (9)

Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangimu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu, dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai wali, maka mereka itulah orang-orang yang zhalim.

Sebagaimana ayat sebelumnya, ayat ini juga bersifat umum. Setiap orang yang memiliki sikap seperti yang dinyatakan ayat ini, tercakup di dalamnya. Mereka adalah orang-orang yang memerangi kaum Muslim karena agama dan mengusir kaum Muslim dari negeri dan kampung halamannya. Termasuk pula orang-orang yang membantu orang lain mengusir kaum Muslim. Bantuan yang dimaksud bisa berupa sumbangan pemikiran, lebih-lebih kendaraan dan persenjataan (al-Jazairi dalam Aysâs al-Tafâsîr).

Karena sikap mereka yang terang memusuhi Islam dan umatnya, mereka tidak boleh diperlakukannya seperti kelompok yang disebut dalam ayat sebelumnya. Dalam ayat ini Allah melarang kaum Muslim: ‘an tawallawhum. Artinya mengangkat mereka sebagai al-waliyy. Secara bahasa, kata al-waliyy memiliki beberapa makna. Di antaranya adalah al-nashîr (penolong), al-muhibb (yang mencintai), al-shadîq (sahabat), al-mu’în (pembantu), al-halîf (sekutu), dan al-tâbi’ (pengikut). Karena tidak ada pembatasan dari makna-makna tersebut, maka semua makna tersebut tercakup dalam kata al-waliyy dalam ayat ini. Artinya, umat Islam tidak melakukan semua tindakan yang terkatagori mengangkat mereka sebagai al-waliyy.

Larangan menjadikan orang-orang yang memerangi umat Islam, mengusir mereka dari negeri mereka, dan membantu tindakan pengusiran itu sebagai wali tersebut bersifat tegas. Dengan kata lain, perbuatan tersebut termasuk dalam perbuatan yang diharamkan. Indikasi keharamannya adalah firman Allah Swt selanjutnya: Waman yatawallahum fa ulâika hum al-zhâlimûn (dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai wali, maka mereka itulah orang-orang yang zhalim). Penyebutan orang yang mengangkat kaum yang memerangi umat Islam itu sebagai orang zhalim merupakan bukti jelas yang menunjukkan haramnya perbuatan tersebut.

Jika ditelusuri ayat-ayat lain, sikap yang harus diambil kaum Muslim terhadap orang yang memerangi bukan hanya tidak mengangkat mereka sebagai wali, namun juga membalas perlakuan mereka. Wajib bagi kaum Muslim untuk memerangi mereka. Allah Swt berfirman:

وَقَاتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَكُمْ وَلَا تَعْتَدُوا إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ

Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas (TQS. al-Baqarah [2]: 190).

Haram Menerima Hillary

Berdasarkan paparan di atas, amat jelas sikap yang harus diambil dalam menyikapi kedatangan Hillary ke Indonesia. Amerika Serikat adalah negara yang memusuhi amat Islam dan umatnya. AS telah menggempur Afghanistan dan Irak hingga kedua negara itu porak poranda. Kebrutalan serdadu AS yang mereka kirim juga telah melampaui batas kemanusiaan. Ratusan ribu jiwa manusia telah menjadi korbannya. Tak terkecuali wanita dan anak-anak. Negara ini juga menabuh genderang perang melawan kaum Muslim dengan menyebutnya sebagai teroris. Mendukung penuh perampasan Israel atas tanah Palestina. Senjata yang digunakan untuk menyerbu Gaza kemarin juga berasal dari Amerika. Dengan demikian, Amerika telah lama menjadi kafir harbi fi’lan, kafir yang sedang memerangi Islam secara nyata.

Pergantian rezim oleh Obama sama sekali tidak membuat Amerika berubah. Di awal pemerintahannya, Obama telah menegaskan sikapnya untuk menjaga eksistensi Israel dengan cara apa pun. Serdadunya juga sudah membombardir Afghanistan sehingga menewaskan beberapa orang. Obama memang berjanji hendak menarika pasukan AS dari Irak. Akan tetapi, pasukan itu hanya akan dialihkan ke negeri Islam lainnya, Afghanistan. Dalam kampanyenya, dia juga mengancam hendak menyerang Pakistan. Sebagian fakta itu menjadi bukti amat jelas bahwa Amerika, di bawah pemerintahan siapa pun, tetap berkedudukan sebagai kafir harbi fi’lan.

Dengan status demikian, haram menerima Menlu AS Hillary Clinton di negeri ini. Apalagi diterima sebagai tamu dari negara sahabat yang disambut dengan hangat, dijamu, dan dihormati. Hadits yang mewajibkan kaum Muslim memuliakan tamu tidak berlaku buat dia. Sebaliknya, dia harus merasakan akibat dari permusuhannya terhadap Islam: kerasnya perlawanan kaum Muslim.

Terhadap kafir harbi fi’lan, Islam bersikap tegas. Bukan hanya pemimpinnya, rakyatnya pun diperbolehkan menginjakkan kaki di wilayah Islam kecuali untuk mendengarkan Kalam Allah Swt. Allah Swt berfirman:

وَإِنْ أَحَدٌ مِنَ الْمُشْرِكِينَ اسْتَجَارَكَ فَأَجِرْهُ حَتَّى يَسْمَعَ كَلَامَ اللَّهِ ثُمَّ أَبْلِغْهُ مَأْمَنَهُ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لَا يَعْلَمُونَ

Dan jika seorang di antara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah, kemudian antarkanlah ia ke tempat yang aman baginya. Demikian itu disebabkan mereka kaum yang tidak mengetahui (TQS. al-Taubah [9]: 6).

Lebih dari itu, sebagai salah satu pemimpin negara penjajah, kedatangan Hillary ke Indonesia jelas untuk mengokohkan hegemoni AS di negeri ini. Haram melempangkan jalan buat mereka untuk menguasai kaum Muslim. Allah Swt berfirman:

وَلَنْ يَجْعَلَ اللَّهُ لِلْكَافِرِينَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ سَبِيلًا

Dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang yang beriman (TQS. al-Nisa’ [4]: 141).

Tentu amat sulit diterima akal sehat ada seorang kepala negara yang menerima pemimpin negara penjajah, yang hendak mengokohkan hegemoninya. Lagi-lagi, yang kita butuhkan adalah Khilafah Islamiyyah yang mau dan mampu melindungi rakyatnya dari serbuan musuh-musuhnya. WaLlâh a’lam bi al-shawâb. (Rokhmat S. Labib, Ketua Lajnah Tsaqafiyyah HTI)


PENGAKUAN MANTAN JENERAL SOVIET & PAKAR TENTANG KEKALAHAN SOVIET DI AFGHANISTAN


Pengakuan Mantan Jenderal Soviet dan Pakar:

Jihad dan Dukungan Masyarakat yang Membuat Soviet Kalah di Afghanistan



HTI-Press. Para veteran Afghanistan dan pakar mengakui semangat jihad fi sabilillah para mujahidin dan dukungan rakyatlah yang membuat Soviet kalau di Afghanistan. Wartawan BBC Richard Galpin telah berbicara dengan beberapa pakar dan veteran, yang mengenang penarikan mundur pasukan Uni Soviet pada 1989 setelah 10 tahun pendudukan, sebagai pengalaman traumatis dan mempermalukan.

Hal ini dinyatakan veteran perang Afghanistan dan pakar. Menurut mereka sebagian pejuang perlawanan (Mujahideen) adalah aktivis muslim berhaluan radikal yang berkeyakinan berperang melawan orang komunis tak ber-Tuhan adalah jihad. Dan, faktor yang ikut menentukan pejuang Afghanistan mendapat dukungan dari warga masyarakat. Menurut beberapa pengamat nasib AS dan Nato tidak akan jauh dengan Soviet.

Letjen (Pur) Ruslan Aushev, pria dengan kumis menggantung di atas mulutnya seperti tirai beludru tebal. Namun, mulutnya keluar kata-kata yang tepat dan lugas pantas untuk sosok panglima militer Uni Soviet yang mengantungi banyak medali penghargaan atas keterlibatannya dalam aksi militer di Afghanistan pada 1980-an.

“Kami berada di sana selama 10 tahun, dan kami kehilangan lebih dari 14.000 tentara, tapi apa hasilnya? Nol,” ujar Aushev selagi kami bertemu di kantornya di salah satu bilangan jalan ternama di jantung kota Moskow.


Konvoi pasukan Uni Soviet ditarik mundur dari Afghanistan Februari tahun 1979


Kami ingin mendatangkan perdamaian dan stabilitas ke Afghanistan, tapi kenyataannya semuanya memburuk

Pengakuan terang-terangan mengenai kegagalan ini umum terdengar di kalangan para veteran Rusia yang menghadiri rangkai acara akhir pekan ini , tepat 20 tahun, untuk mengenang genap 20 tahun setelah untuk tentara terakhir Soviet ditarik dari Afghanistan.

AS Masuk Dalam Jebakan yang Sama?

Kini hanya 20 tahun kemudian, orang Rusia dengan terheran-heran mencermati cara pasukan Amerika dan Nato melancarkan perang di Afghanistan.

Moskow melihat bahwa pasukan Barat sama sekali tidak memetik pelajaran dari pengalaman getir Uni Soviet.Sebaliknya mereka justru jatuh ke dalam jebakan yang sama.

Satu contoh utama adalah rencana Amerika saat ini untuk mengerahkan balabantuan puluhan ribu serdadu ke Afghanistan.”Menambah pasukan mereka tidak akan mendatangkan solusi di lapangan,” kata Kolonel (Purn) Oleg Kulakov, yang dua kali bertugas di Afghanistan dan kini menjadi dosen dan sejarawan di Moskow.

“Konflik ini tidak bisa dipecahkan dengan cara-cara militer, itu ilusi,” tambah Kulakov,

“Tidak seorang pun bisa mencapai tujuan politik di Afghanistan dengan mengandalkan pasukan militer. Jujur saja, mereka pasti akan mengulangi kekeliruan kami,” tandasnya.

Persamaan yang Menyolok


Konflik ini tidak bisa dipecahkan dengan cara-cara militer, itu ilusi

Sekali lagi, pasukan asing penyerbu di Afghanistan mencoba menstabilkan pemerintahan yang bersahabat kepada orang asing. Sekali lagi, mereka menghadapi mujahidin Islam antara lain “Taleban”.

Sekali lagi, pejuang bertambah kuat dan mendapat dukungan yang meningkat dari masyarakat sementara pasukan pendudukan menimbulkan korban jiwa sipil yang terus bertambah.

Mantan Dubes Inggris untuk Moskow, Sir Roderick Braithwaite khawatir intervensi yang dimotori Amerika Serikat dan Nato mungkin akan terbukti menjadi bencana seperti campur tangan Uni Soviet.

“Kita masuk dengan tujuan awal terbatas, namun seperti Rusia berharap bahwa mereka bisa membangun sosialisme di Afghanistan, kita berharap kita bisa membangun demokrasi,” kata Sir Roderick Braithwaite.

“Kita tidak memiliki cukup pasukan di sana untuk mendominasi wilayah tersebut, dan kita memiliki pemerintah di Kabul yang kekuasannya hampir-hampir tidak berjalan di ibukota, apalagi di luarnya,” katanya


Mujahiddin mengangkat senjata untuk melawan Uni Soviet

Seperti pada tahun 1980-an, pasukan asing menghadapi perlawanan para mujahidin .”Kita tidak memiliki strategi jangka panjang, dan tidak seperti Rusia, kita telah berada di sana selama delapan tahun, tapi bahkan tidak mulai merencanakan untuk pulang,” tambah Sir Roderick Braithwaite .

Tidaklah mengherankan kalau para penjajah berupaya menghapuskan kewajiban jihad fi sabilillah ini di tengah-tengah umat Islam. Mereka mendapat pelajaran yang penting, kalau umat Islam berjuangan berdasarkan aqidah Islam untuk berjihad fi sabilillah mengusir musuh, umat Islam sulit untuk dikalahkan.

Untuk menghapuskan kewajiban jihad ini negara-negara Barat juga memanfaatkan kelompok liberal di negeri-negeri Islam yang berusaha mendistorsi kewajiban jihad dalam makna sejatinya yakni perang di jalan Allah untuk menegakkan kalimatullah. Ungkapan menyesatkan yang sering mereka sebut : jihad terpenting adalah melawan hawa nafsu, apapun kalau sungguh-sungguh bisa disebut jihad, orang yang berjihad adalah orang yang takut hidup, dan tuduhan-tuduhan keji lainnya.

Para propagandis ideologi Barat ini tidak lain adalah kaki tangan negara penjajah untuk melemahkan kaum muslim dan mengokohkan penjajahan di negeri Islam.

(Farid Wadjdi; diolah dari sumber BBB online 15/2/2009)

PERAK : BUKTI NYATA KEBOHONGAN DEMOKRASI



Mengikut lunasnya, demokrasi adalah sistem pemerintahan dari, oleh dan untuk rakyat. Walau bagaimanapun amat mustahil sesebuah negara itu dapat mengumpulkan seluruh rakyatnya untuk bermesyuarat, seterusnya menggubal hukum untuk mereka semua. Oleh itu, secara praktiknya rakyat akan memilih wakil (bukan memilih pemimpin) untuk mewakili mereka di dewan persidangan baik dikenali sebagai parlimen mahupun dewan undangan negeri. Wakil ini dipilih tidak lain kecuali untuk membuat atau menggubal undang-undang yang akan diterapkan oleh mereka. Inilah antara konsep asas dalam sistem demokrasi, yang sebenarnya cuba mengabui mata rakyat dengan 'kebaikan' yang dibawanya.




Perkembangan terkini di Malaysia selepas pilihan raya umum ke 12 pada 8 Mac 2008 telah menyingkapkan pembohongan sistem demokrasi, malah ia turut menyingkapkan lagi keburukan dan kekejian yang terdapat di dalam sistem demokrasi. Masing-masing dilihat berebut untuk mendapatkan kekuasaan bagi memerintah negara atas nama demokrasi. Yang jahat bercakap tentang demokrasi, yang baik pun bercakap tentang demokrasi, seolah-olah demokrasi ini suatu yang suci yang perlu diperjuangkan baik oleh golongan sekular atau Islami. Bermula dengan harapan pengambil alihan kuasa pada 16 September yang tidak kunjung tiba walaupun cukup menggegarkan kestabilan negara, kemudian timbul pula isu ahli parlimen lompat parti, khususnya di Sabah dan Sarawak. Isu lompat si katak lompat ini ‘diperjuangkan’ buat seketika kerana ingin mengambil alih kuasa yang dikatakan secara demokratik.



Kini, si katak bukan sahaja memang hebat melompat, terapi telah pandai melakukan ‘u-turn’. Bagaimanapun, u-turn ini juga adalah demokratik dan tak sepatutnya menimbulkan kemarahan sesiapa. Kalau si katak boleh melompat ke seberang dan ini dikatakan demokratik, maka jika si katak tadi melompat balik ke tempat asal, ini juga adalah demokratik. Tidak perlu kecoh. Lompat-melompat begini sudah teramat biasa dengan sistem demokrasi yang ‘suci’ ini. Jadi, sepatutnya ‘kesucian’ demokrasi ini tetap dijaga oleh pihak-pihak yang memperjuangkannya. Dan si katak yang melompat yang hanya mengamalkan demokrasi ini, sepatutnya tidak dicemuh, dimarahi, dikutuk atau dihentam.



Politik Perak bergolak setelah Adun Bota, Datuk Nasharudin Hasim dari BN melompat ke PR. Situasi ini mencemaskan BN di Perak sehinggakan Pengerusi Umno Perak terpaksa melepaskan jawatan dan digantikan oleh Dato’ Sri Najib Tun Razak. Sebaik sahaja teraju UMNO di Perak dipegang oleh Najib pendirian Nasharudin goyah semula. Apbila ditanya, beliau dipetik sebagai berkata:



"Tengok dulu, tengok dulu... apa yang akan berlaku... tengok keadaan," [Mstar 30 Jan].



Perkembangan hari Ahad 1 Februari lebih mengkucar-kacirkan keadaan, apabila dua Adun yang merupakan Exco kerajaan negeri Perak telah ‘hilang’. Speaker Dewan Undangan Negeri Perak, V. Sivakumar pada pukul 5.55pm 1 Februari mendakwa telah menerima surat peletakan jawatan dari dua Exco terbabit melalui faksimili yang seterusnya berlakulah pembubaran dewan undangan negeri dan pilihan raya sepatutnya berjalan di seluruh Perak. Walau bagaimanapun kedua dua exco terbabit menafikan menghantar peletakan jawatan tersebut. Nasaharudin pula telah melompat balik ke pangkuan UMNO.



Begitulah serba ringkas bagaimana bermulanya kekecohan di Perak. Wakil yang dipilih oleh rakyat dengan harapan mewakili mereka, akhirnya menjadi bahan sepak terajang dalam perebutan kuasa yang tidak ada kena mengena langsung dengan aspirasi rakyat.



Islam vs Demokrasi



Idea suci demokrasi yang mengatakan kedaulatan di tangan rakyat telah nyata dihapuskan oleh pihak-pihak yang memperjuangkan demokrasi itu sendiri. Apa yang berlaku di Perak sebenarnya menunjukkan bahawa ‘kedaulatan’ adalah di tangan pihak yang berkuasa, bukannya di tangan rakyat. Kedaulatan juga sekarang ini telah jatuh terus di tangan Raja, setelah istana terheret secara langsung ke dalam kemelut ini. Jadi, di manakah idea suci murni demokrasi kononnya ‘kedaulatan di tangan rakyat’? Sesungguhnya rakyat hanyalah menjadi mangsa kepada kerakusan parti-parti politik yang ingin berkuasa.



Dalam pergaduhan ini, kedua-dua pihak mendakwa bahawa tindakan mereka adalah demokratik dan menuduh pihak lain tidak demokratik. Yang pasti, tidak ada satu pihak pun yang menyatakan bahawa tindakan mereka adalah bersesuaian dengan Islam. Justeru, ‘standard kebenaran’ telah diletakkan kepada demokrasi, bukannya kepada Islam atau hukum syarak. Walhal yang bergaduh majoritinya adalah sesama Islam. Mereka langsung tidak merujuk kepada firman Allah,



...kemudian jika kamu berbantah-bantah (berselisihan) dalam sesuatu perkara, maka hendaklah kamu mengembalikannya kepada Allah (Al-Quran) dan (Sunnah) RasulNya - jika kamu benar beriman kepada Allah dan hari akhirat. Yang demikian adalah lebih baik (bagi kamu), dan lebih elok pula kesudahannya.” [TMQ an-Nisa’ (4):59]



Jika mereka merujuk kepada Allah dan Rasul, nescaya mereka tidak akan mengembalikan persengketaan mereka kepada ‘demokrasi’. Jika merujuk kepada Allah dan Rasul, nescaya mereka akan sedar bahawa Islam meletakan kedaulatan di tangan syarak, bukannya di tangan rakyat, yakni manusia wajib tunduk patuh kepada ketetapan syara’. Wajib bagi pihak-pihak yang bertelagah untuk kembali kepada Al-Quran dan Sunah, bukannya kembali kepada Perlembagaan Malaysia atau Perlembagaan Perak yang diciptakan oleh manusia di bawah sistem demokrasi. Hukum Allah SWT sebagai Asy-Syari’ adalah yang satu-satunya hukum yang wajib dipatuhi oleh manusia, bukannya hukum demokrasi. Allah SWT berfirman,



.....menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah” [TMQ Al An’aam:57]



Sekiranya mereka kembali kepada Allah dan Rasul, nescaya mereka akan tahu bahawa sistem pemerintahan Islam adalah sistem Khilafah, tidak sebagaimana sistem demokrasi yang ada sekarang yang menjadikan Malaysia sebagai sebuah negara federasi yang membahagi-bahagikan antara kuasa Pusat dan kuasa Negeri. Oleh sebab sistem demokrasi yang mewujudkan federasi inilah yang menyebabkan timbulnya kekecohan dan pergaduhan sesama umat Islam di Perak amnya dan di Malaysia amnya. Kedua-dua pihak sudah tidak dapat keluar dari cara berfikiran yang telah sikafir Lord Reid letakkan di dalam perlembagaan Malaysia, yang mana Malaysia mesti ada kuasa Pusat dan kuasa Negeri. Jadi mereka cuba mempertahankannya habis-habisan. Wlahal pembahagian kuasa pusat dan kuasa negeri ini langsung tidak ada di dalam Al-Quran, As-Sunah, Ijmak Sahabat mahupun Qiyas. Oleh sebab tidak kembali kepada Al-Quran dan Sunnahlah yang menyebabkan mereka ini selamanya terperangkap dengan kekejian demokrasi yang memecah belahkan sesama umat Islam, khususnya di dalam hal perebutan kuasa untuk memerintah.



Islam telah meletakkan peranan seorang Khalifah untuk mendaulatkan hukum-hukum Islam di tengah-tengah masyarakat. Seorang Khilafah itu dibaiat untuk melaksanakan hukum-hukum Allah ke atas manusia dan bukan seperti demokrasi iaitu melaksanakan hukum-hukum ciptaan manusia ke atas manusia.



Dalam demokrasi, yang diterapkan adalah hawa nafsu manusia, manusia tidak dipimpin kecuali dengan hukum buatan manusia yang senantiasa menimbulkan ketidakpuasan dan pertelingkahan. Undang-undang yang dicipta bukan untuk mengatur kehidupan manusia tetapi untuk menjamin kepuasan hawa nafsu manusia yang memerintah. Para pemimpin dan wakil rakyat hanya melampiaskan hawa nafsu untuk kepentingan masing-masing, bukannya untuk kepentingan Islam, dan rakyat hanyalah menjadi mangsa mainan politik kotor mereka.


DEMOKRASI : SISTEM KUFUR YANG MEMBAWA PADAH KEPADA ISLAM


Rentetan fenomena politik di Perak, kini meninggalkan seribu satu kesan yang pastinya tidak akan memihak kepada kebaikan Islam mahupun umatnya. Pergelutan merebut kuasa memaparkan sikap pihak yang bergelut, masing-masing menggunakan hujah, teknik bagi memenangkan diri agar meraih apa yang dihajati. Salah satunya, political hijack. Teknik ini diguna bagi menjatuhkan lawan dengan ‘membeli’ ahli yang juga pemimpin parti lawan agar parti itu mengalami kejatuhan dan kekalahan. Teknik lama ini menjadi semakin panas di Malaysia setelah lahirnya impian ‘16 September’.

Dalam kes di Perak, nampaknya apabila pihak musuh telah terlebih dahulu menggunakan ‘modal’ yang lebih besar, maka ‘hijacking’ terkena pada pihak yang ingin meng’hijack’. Akhirnya, terjadilah apa yang kita saksikan di Perak sekarang.

Selain memerhatikan perkembangan yang berlaku, persoalan ‘kesan’ ke atas apa yang berlaku ini perlu dilihat oleh kita semua sebagai satu impak yang penting, khususnya kepada umat Islam. Setelah semua ini, pastinya wujud satu persepsi yang buruk di kalangan umat Islam terhadap ‘politik’ dan asas perjuangan kedua-dua pihak terbabit. Memerhatikan mereka sedang berusaha menjatuhkan lawan masing-masing dengan cara yang kotor dan menyimpang dari kebenaran (syarak), hal ini ternyata telah menghinakan pihak-pihak yang terbabit itu sendiri. Semua sedar bahawa dalam politik demokrasi sekarang, ada pihak yang sanggup menjadikan pihak lain sebagai mangsa percaturan politik, tanpa memikirkan kesannya kepada Islam, dan tanpa memikirkan persoalan dosa dan pahala.

Pihak-pihak yang bergaduh sebenarnya telah terperangkap di dalam sistem kotor demokrasi yang memecah-belahkan sesama umat Islam dan melemahkan lagi ikatan persaudaraan mereka. Kuffar Barat sedang tertawa melihat gelagat umat Islam yang bergaduh sesama sendiri dek sistem demokrasi yang mereka (Barat) ciptakan. Agenda (demokrasi) Barat sekali lagi berjaya, dan hal ini langsung tidak disedari oleh pihak-pihak yang bertelagah. Malah mereka masih berpegang teguh membicarakan demokrasi di saat-saat segenting ini untuk mempertahankannya.

Dengan apa yang berlaku, golongan umat Islam yang sudah sedia bencikan politik akan bertambah kebencian mereka kepada politik, kerana bagi mereka, politik tidak menambah kecuali perbalahan sesama umat Islam. Mereka yang kecewa dengan politik pula akan semakin bertambah kecewa melihat kekotoran politik yang diamalkan sekarang. Dan hal ini tentunya akan melahirkan lebih ramai golongan yang berkecuali dari politik, dan akan semakin menjauhkan umat Islam dari kefahaman sebenar politik menurut Islam.

Puak sekular sememangnya jahat dan bencikan Islam. Mereka akan menggunakan segala taktik keji dan kotor untuk menjamin kuasa mereka. Menasihati mereka kepada Islam tidak lebih seumpama mencurah air ke daun keladi. Justeru, menasihati dan menyedarkan parti Islam jauh lebih baik dari menjadi anjing menyalak bukit kepada puak sekular.

Gerakan Islam seharusnya sedar bahawa mereka sebenarnya ‘terperangkap’ dengan kekotoran politik di bawah nama sistem demokrasi dan Raja Berperlembagaan. Akhirnya, agama Islam yang mereka perjuangkan terpaksa akur dengan kehendak demokrasi yang dibawa oleh puak sekular yang lebih berkuasa. Islam tidak didaulatkan sebaliknya demokrasi pula yang dijulang dan didaulatkan.

Akibat terlibat secara langsung dengan pemerintahan demokrasi, setiap kali berlaku kemelut, tidak terkecuali seperti di Perak ini, parti Islam tidak lagi bercakap tentang Islam, tetapi bercakap tentang demokrasi sebagai ‘standard kebenaran’ di dalam menilai apa yang berlaku. Di dalam mengembalikan kebenaran, seluruh percakapan mereka adalah berkisar tentang mengembalikan demokrasi, bukannya lagi tentang mengembalikan Islam sebagai satu-satunya hukum untuk manusia. Semua ini berlaku akibat mereka terjebak dan terbius dengan racun demokrasi!

Kita semua harus sedar bahawa hakikat permasalahan umat Islam sekarang adalah kerana hidup mereka tidak dinaungi oleh syariah. Mereka dinaungi oleh demokrasi. Kehidupan mereka bukan lagi kehidupan Islam. Mereka mengembalikan segala penyelesaian kepada demokrasi, bukannya kepada Islam. Walaupun ada yang mendakwa bahawa mereka hanya ‘mempergunakan’ demokrasi untuk menegakkan Islam, tetapi apa yang berlaku dari dulu hingga sekarang adalah sebaliknya (iaitu) mereka hanya ‘dipergunakan’ oleh demokrasi. Malah mereka sering dipermainkan dan diperbodohkan atas nama demokrasi. Mereka mendakwa mereka sah berkuasa kerana demokrasi, kemudian ternyata kuasa mereka digulingkan sedemikian rupa, pun atas nama demokrasi. Dan mereka kini dikatakan tidak sah berkuasa, pun kerana demokrasi. Mereka masih mengatakan mereka sah berkuasa atas nama demokrasi, dan dalam masa yang sama puak sekular yang merampas kuasa juga mendakwa merekalah pemimpin yang sah menurut demokrasi! Siapakah yang menang dan siapakah yang benar? Apa jadi dengan Islam?

Demokrasi yang mereka perjuangkan hanyalah memakan diri sendiri sejak dahulu lagi. Ini kerana demokrasi tidak akan menguntungkan Islam sedikit pun, melainkan ia hanya memberi keuntungan kepada golongan kuffar dan puak sekular. Hinanya demokrasi adalah sehinanya golongan sekular yang memperjuangkannya dan ia (demokrasi) tidak layak diperjuangkan oleh golongan umat Islam yang mulia, khususnya yang berada di dalam parti-parti Islam.

Sesungguhnya standard kebenaran ada pada Islam, tidak pada demokrasi. Dan sebagai pengubat/penawar dari masalah ini, Islam perlu diletakkan semula posisinya dalam kehidupan secara menyeluruh dan nalar. Maka perlu ada usaha dan perjuangan ke arah merealisasikan tujuan mengembalikan kehidupan Islam dalam kehidupan umat di kala ini, bukannya perjuangan untuk memulihkan demokrasi. Itulah yang sepatutnya dan itulah yang sewajibnya diperjuangkan oleh kelompok politik Islam, bukannya terus menerus membiarkan diri terjebak dengan perangkap demokrasi yang hina lagi menghinakan. Rasulullah SAW menunjukkan kepada kita erti politik Islam yang jauh berbeza bahkan bertentangan asas, konsep, prinsip dan sebagainya dengan sistem demokrasi yang ada sekarang. Sesungguhnya umat Islam tidak memerlukan demokrasi sedikit pun!


HUKUM SEORANG WANITA MENAIKI KENDERAAN BERSENDIRIAN TANPA MAHRAM


Soalan
: Adakah seorang wanita dibolehkan menaiki kenderaan persendirian bersendirian tanpa seorang Mahram, jika pemandunya adalah seorang kenalan keluarganya?

Jawapan :

1. Peraturan yang berkaitan di rumah(tempat khusus) juga digunakan untuk kenderaan persendirian kerana kedua-duanya memerlukan keizinan untuk memasukinya (menaiki kenderaan).

2. Oleh yang demikian, tidak ada sesiapa pun dibenarkan untuk berada bersama seorang wanita dalam kenderaan tersebut kecuali Mahram atau suaminya, seperti dia berada di rumah.

3. Tidak ada yang terkecuali dari itu, melainkan apa yang telah dikecualikan oleh nas mengenai peraturan dirumah(tempat khusus) seperti hubungan persaudaraan yang mempunyai pertalian darah sama ada mereka Mahram, seperti bapa saudara atau yang bukan Mahram seperti sepupu lelaki, adalah dibolehkan jika untuk melawat saudaranya. Contohnya, ketika jamuan keramaian dan sebagainya, kerana secara amnya nas menjelaskan mengenai hubungan persaudaraan yang mempunyai pertalian darah: keperluan akan ikatan persaudaraan, serta menggalakkan hubungan persaudaraan yang bertalian darah tetapi bukan Mahram, tanpa melakukan khalwat. Begitu juga dalam keadaan yang lain, jika terdapat nas yang membenarkan Ijtima’ (perjumpaan) diantara lelaki dan wanita di rumah.

4. Satu lagi pengecualian yang disebut untuk kenderaan persendirian, ialah dibolehkan seorang wanita itu untuk menaiki sesuatu kenderaan jika pemandunya mempunyai pertalian darah dengannya(saudara), tetapi bukan dalam keadaan berkhalwat. Ini bermakna, wanita itu disertai oleh kenalannya atau kenalan pemandu kenderaan tersebut, sama ada mereka adalah Mahramnya atau pun tidak.

Dalilnya adalah sebuah hadis yang diceritakan oleh Asma (semoga Allah merahmatinya) dan diriwayatkan oleh Al-Bukhari dari Asma Binti Abi Bakar (semoga Allah Merahmati mereka), di mana dia berkata:

تَزَوَّجَنِي الزُّبَيْرُ ... وَكُنْتُ أَنْقُلُ النَّوَى مِنْ أَرْضِ الزُّبَيْرِ الَّتِي أَقْطَعَهُ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم عَلَى رَأْسِي وَهِيَ مِنِّي عَلَى ثُلُثَيْ فَرْسَخٍ فَجِئْتُ يَوْمًا وَالنَّوَى عَلَى رَأْسِي فَلَقِيتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم وَمَعَهُ نَفَرٌ مِنْ الْأَنْصَارِ فَدَعَانِي ثُمَّ قَالَ إِخْ إِخْ لِيَحْمِلَنِي خَلْفَهُ فَاسْتَحْيَيْتُ أَنْ أَسِيرَ مَعَ الرِّجَالِ وَذَكَرْتُ الزُّبَيْرَ وَغَيْرَتَهُ وَكَانَ أَغْيَرَ النَّاسِ فَعَرَفَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم أَنِّي قَدْ اسْتَحْيَيْتُ فَمَضَى ....

Aku berkahwin dengan Al –Zubair. Dan aku biasanya membawa biji benih diatas kepala aku dari ladang Al-Zubair yang diberi oleh Rasulullah (Sallallahu Alaihi wa Sallam), dimana ladang tersebut terletak sejauh lebih kurang satu pertiga Farsakh (parasang), dan suatu hari ketika aku membawa biji benih diatas kepalaku, aku bertemu dengan Rasulullah berserta dengan beberapa lelaki Ansar, beliau memanggil aku dan menyuruh aku menunggang dibelakangnya. Aku merasa malu untuk berjalan bersama –sama dengan lelaki-lelaki tersebut dan aku teringat Al-Zubair seorang yang cemburu, jadi Rasulullah (Sallallahu Alaihi wa Sallam) mengetahui bahawa aku malu, lalu beliau berjalan bersama.” (Farsakh (parasang) adalah lebih kurang 3 batu iaitu lebih kurang 5.5 kilometer).

Pemahaman dari hadis ini adalah seperti berikut:

Rasulullah (Sallallahu Alaihi wa Sallam) membenarkan Asma menunggang dibelakang kuda beliau dimana ia adalah kenderaan persendirian dan bukan kenderaan awam.

Rasulullah (Sallallahu Alaihi wa Sallam)) berjalan berserta dengan beberapa orang sahabatnya (semoga Allah merahmati mereka) didalam sebuah kafilah (kumpulan).

Adalah sangat jelas bahawa perjalanan itu pendek dan bukan yang panjang dimana diperlukan seorang Mahram.

Juga, perbuatan Rasulullah berhenti untuk membenarkan Asma menunggang bersama-sama menunjukkan bahawa dia bersaudara dengan baginda dengan ikatan persaudaraan yang mempunyai pertalian darah, kerana Asma adalah kakak kepada Aishah –Ummul Mukminin (isteri Rasullullah).

Adalah difahami dari perbuatan Rasulullah (Sallahu Alaihi wa Sallam) yang berhenti itu, bahawa baginda sangat mengenali Asma kerana dia mempunyai ikatan persaudaraan yang rapat, dan dia adalah seorang wanita dari keluarga yang mempunyai hubungan persahabatan dengan pemilik kuda atau kenderaan persendirian, berdasarkan dari Ayat yang menyamakan hubungan persahabatan dengan hubungan persaudaraan yang mempunyai talian darah didalam isu memakan makanan dari rumah-rumah persendirian dimana Allah berfirman:

أَنْ تَأْكُلُوا مِنْ بُيُوتِكُمْ أَوْ بُيُوتِ ءَابَائِكُمْ أَوْ بُيُوتِ أُمَّهَاتِكُمْ أَوْ بُيُوتِ إِخْوَانِكُمْ أَوْ بُيُوتِ أَخَوَاتِكُمْ أَوْ بُيُوتِ أَعْمَامِكُمْ أَوْ بُيُوتِ عَمَّاتِكُمْ أَوْ بُيُوتِ أَخْوَالِكُمْ أَو بُيُوتِ خَالاَتِكُمْ أَوْ مَا مَلَكْتُمْ مَفَاتِحَهُ أَوْ صَدِيقِكُمْ.

“…makan (bersama-sama mereka) di rumah kamu sendiri atau di rumah bapa-bapamu, di rumah ibu-ibumu, di rumah saudara-saudaramu yang laki-laki, di rumah saudara-saudaramu yang perempuan, di rumah saudara bapamu yang laki-laki, di rumah saudara bapamu yang perempuan, di rumah saudara ibumu yang laki-laki, di rumah saudara ibumu yang perempuan, di rumah yang kamu miliki kuncinya atau di rumah kawan-kawanmu.” [TMQ An Nur:61]. Sahabat adalah seseorang yang menjalinkan hubungan persahabatan yang akrab dan dengan penuh kasih sayang.

Kesimpulan : Seorang wanita dibolehkan menaiki kenderaan persendirian jika dia mempunyai pertalian darah(saudara) dengan pemandu kenderaan tersebut atau keluarganya benar-benar menjalinkan persahabatan yang akrab dengan pemandu tersebut, tetapi tidak dalam keadaan berkhalwat.

Ini bermakna, pemandu kenderaan tersebut mestilah ditemani oleh orang lain (sama ada saudaranya atau saudara wanita tersebut) yang boleh dipercayai. Ini adalah kerana, orang-orang yang bersama-sama Rasulullah (Sallallahu Alaihi wa Sallam) dalam kisah diatas adalah dari kalangan para sahabat baginda, dengan mengambil kira, jika pemandu kereta itu hanya mempunyai seorang sahaja saudaranya atau saudara wanita tersebut, berada didalam kenderaan itu, maka orang itu hendaklah Mahram kepada wanita tersebut.

Jika selain dari ini,pemandu itu mestilah ditemani oleh lebih dari seorang sahabat yang boleh dipercayainya, seperti kesimpulan yang didapati dari hadis mengenai Asma, dimana terdapat beberapa orang Ansar bersama-sama Rasulullah (Sallallahu Alaihi wa Sallam )-lebih dari satu-tetapi tidak ada daripada mereka itu yang Mahram kepada Asma. Akan tetapi dari sebuah hadis Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam, untuk mencegah seseorang dari khalwat, baginda mensyaratkan bahawa jika pemandu itu seorang, maka yang menemani wanita itu mesti seorang Mahram. Baginda bersabda:

لايخلون رجل بامرأة إلا ومعها ذو محرم

Seorang laki-laki tidak dibenarkan untuk duduk berkhalwat dengan seorang wanita, tanpa seorang Mahram” [HR Muslim].

Oleh itu, jika seorang lelaki duduk/menaiki kereta bersama-sama dengan seorang wanita didalam sebuah kereta persendirian, wanita tersebut hendaklah mempunyai pertalian darah/persaudaraan dengannya atau dia adalah seorang sahabat akrab keluarga wanita tersebut, tetapi untuk mencegah dari melakukan khalwat, hendaklah ada bersama-sama mereka, lebih dari seorang daripada saudara-saudara/kenalan yang dipercayai oleh pemandu atau wanita tersebut didalam kereta itu, atau seorang Mahram wanita itu. Perjalanan itu hendaklah satu perjalanan yang pendek dan bukan perjalanan yang panjang dimana sememangnya seorang Mahram diperlukan.

Begitulah keadaannya apabila beberapa orang lelaki menaiki kenderaan bersama-sama (dengan pemandu dan seorang wanita) didalam sebuah kereta persendirian, maka hendaklah ia melakukan perkara seperti yang disebutkan diatas.

Tetapi, jika beberapa orang wanita menaiki kenderaan bersama-sama (dengan seorang pemandu dan wanita) didalam kereta persendirian, maka untuk mencegah dari berlakunya khalwat dalam keadaan ini, pernah dibincangkan oleh para Fuqaha dahulu, dimana, sebahagian menyatakan jika ada isteri pemandu atau Mahram wanita tersebut menemankan bersama, maka tidak berlaku khalwat, malah sebahagian lagi berkata, jika ada seorang wanita yang boleh dipercayai berserta bersama mereka, maka tidak ada berlakunya khalwat jadi (untuk mencegah khalwat dilakukan oleh wanita) bolehlah dikaji dengan lebih lanjut dari buku-buku para Fuqaha.

Oleh :Sheikh Ata ibn Khaleel Abu al-Rashta
Sumber: Islamic Revival


 

MENGENAL HIZBUT TAHRIR