ISLAM AGAMA SYUMUL

FIRMAN ALLAH SUBHANAHU WA TA'ALA; "Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah kalian ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah syaithan, kerana sesungguhnya syaithan itu adalah musuh yang nyata bagi kalian." [TMQ AL-BAQARAH(2):208]

MASA ITU EMAS


Showing posts with label INFO SYARIAH. Show all posts
Showing posts with label INFO SYARIAH. Show all posts

NEGARA MENUTUP SETIAP PINTU KEMAKSIATAN


Pasal 15 : “Segala sesuatu yang menghantarkan kepada yang haram hukumnya adalah haram, apabila diduga kuat dapat menghantarkan kepada yang haram. Dan jika hanya dikhawatirkan, maka tidak diharamkan.” (An-Nabhani, Muqaddimah ad-Dustûr, hlm. 88).

Pengantar

Dalam kehidupan sehari-hari, manusia hampir tidak pernah bisa lepas dari yang dimanakan wasilah dengan berbagai bentuknya, mulai dari yang termurah hingga yang termahal, mulai dari yang paling sederhana hingga yang paling canggih dan modern sesuai dengan kemajuan teknologi.
Apalagi kemajuan teknologi merupakan realitas yang tidak bisa kita hindari dalam kehidupan ini, sebab kemajuan teknologi itu berjalan seiring dengan kemajuanm ilmu pengetahuan. Kemajuan teknologi ini telah menciptakan banyak wasilah yang memberikan manfaat positif bagi kehidupan manusia, memberikan banyak kemudahan dalam melakukan aktifitasnya, dan bahkan menjadikan dunia yang luas ini seolah-olah sesuatu yang kecil hingga semua hal dapat dijangkaunya dengan seketika. Hanya saja, meski pada awalnya wasilah-wasilah itu diciptakan untuk menghasilkan manfaat positif, namun di sisi lain wasilah-wasilah memungkinkan untuk digunakan pada hal-hal negatif yang menghantarkan manusia pada perbuatan yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya.

Lalu, bagaimana negara Khilafah mengarahkan dan menjaga agar wasilah-wasilah itu tidak menjadi pintu kemaksiatan bagi warganya? Telaah kitab Rancangan UUD (Masyrû’ Dustûr) Negara Islam kali ini akan membahas pasal 15 tentang haramnya wasilah yang menghantarkan kepada perkara yang haram, yang berbunyi: “Segala sesuatu yang menghantarkan kepada yang haram hukumnya adalah haram, apabila diduga kuat dapat menghantarkan kepada yang haram. Dan jika hanya dikhawatirkan, maka tidak diharamkan.” (An-Nabhani, Muqaddimah ad-Dustûr, hlm. 88).

Pengertian Wasilah 

Kata al-wasîlah (wasilah) adalah bentuk tunggal (mufrad), sedang bentuk jama’ (plural)nya adalah al-wasâ’il. Wasilah secara etimologi maknanya adalah ar-rughbah (keinginan) dan at-thalab (permohonan). Sehingga dikatakan “wasala“, jika ia memiliki keinginan. Sedang al-wâsilu maknanya adalah ar-râghibu ilallahi, orang yang memiliki keinginan (berdoa) kepada Allah (Ibnul Faris, Maqâyîs al-Lughah, VI/83). Kata wasilah juga memiliki makna al-Wushlah, sesuatu yang menghubungkan dua barang, dan al-Qurba, sesuatu yang paling dekat (Anis, al-Mu’jam al-Wasîth, II/1.032).

Adapun wasilah secara terminologi, maka para ulama bahasa Arab hampir sepakat, bahwa al-wasîlah adalah mâ yutaqarrabu bihi ila al-ghair, alat (media) yang dipergunakan untuk mendekatkan sesuatu kepada sesuatu yang lain (al-Jurjani, at-Ta’rîfât, hlm. 252; al-Fayumi, al-Mishbâh al-Munîr, II/660; dan al-Manawi, at-Ta’ârîf, hlm. 726). Dengan kata lain wasilah adalah apa saja yang dapat memudahkan sampainya sesuatu kepada sesuatu yang lain.

Dan wasilah itu bukan perantara. Perantara dalam bahasa Arab disebut dengan al-wasîthah, bukan al-wasîlah. Hubungan melalui telepon, misalnya, adalah hubungan langsung, bukan hubungan melalui perantara. Telepon bukan perantara, melainkan alat atau media yang memungkinkan terjadinya hubungan langsung antara dua orang yang saling berjauhan.

Al-Qur’an juga menggunakan kata al-wasîlah bukan dengan arti al-wasîthah (perantara), baik yang terdapat dalam surat al-Maidah ayat 35, maupun surat al-Isra’ ayat 57. Kata al-wasîlah dalam kedua ayat ini maknanya adalah sesuatu yang menjadikannya dekat kepada Allah, yaitu bertakwa dan hanya beribadah kepada-Nya. Qatadah mengatakan ketika menjelaskan firman Allah:
[وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ]
Dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya” (QS. Al-Maidah [5] : 35), yakni “Dekatkan diri Anda kepada-Nya dengan menaati perintah-Nya dan melakukan perbuatan yang menyebabkan ridha-Nya.” (ath-Thabari, Tafsîr ath-Thabari, VI/146).

Wasilah yang Haram

Wasilah seperti yang disebutkan di atas adalah apa saja yang dipergunakan untuk mendekatkan sesuatu kepada sesuatu yang lain, atau apa saja yang dapat memudahkan sampainya sesuatu kepada sesuatu yang lain. Dan, wasilah itu dapat berupa benda yang hukum asalnya mubah, atau perbuatan yang dibolehkan syara’. Namun, jika wasilah itu menyebabkan kepada perkara yang diharamkan Allah, maka wasilah itu menjadi haram dipakai atau dilakukan. Sebagaimana kaidah syariah mengatakan:

الْوَسِيْلَةُ إِلَى الْحَرَامِ حَرِامٌ

Wasilah yang menghantarkan kepada yang haram hukumnya adalah haram.”
Dalil kaidah ini adalah firman Allah SWT:

[وَلا تَسُبُّوا الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ فَيَسُبُّوا اللَّهَ عَدْوًا بِغَيْرِ عِلْمٍ]

Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, sebab mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan.” (TQS. Al-An’am [6] : 108).

Dengan ayat ini, Allah SWT melarang Rasulullah Saw dan kaum Mukmin dari memaki sembahan-sembahan kaum musyrik, sekalipun di dalamnya ada kebaikkan. Sebab hal itu akan mengakibatkan kerusakan yang lebih besar, yakni balasan kaum musyrik dengan memaki Tuhan kaum Mukmin, yaitu Allah yang tiada Tuhan selain Dia (Ibnu Katsir, Tafsîr Ibnu Katsir, III/282).

Memaki kaum kafir termasuk di antara perkara yang mubah. Dan Allah telah memaki mereka di dalam al-Qur’an. Hanya saja, jika makian ini diduga kuat (ghalaba ‘ala adz-dzan) akan menyebabkan kaum kafir memaki Allah, maka memaki mereka dan sembahan-sembahannya adalah haram. Sebab memaki Allah itu haram, bahkan merupakan dosa besar di atas dosa besar.

Dengan demikian, wasilah itu menjadi haram dipakai atau dilakukan jika diduga kuat (ghalaba ‘ala adz-dzan) akan menghantarkan kepada sesuatu yang haram. Dalam firman Allah ini misalnya, Allah menggunakan al-fa’ as-sababiyah, yaitu huruf athaf (fa’) yang menashabkan fi’il mudhari’ dengan (an) yang wajib disembunyikan, syaratnya adalah bahwa kalimat sesudahnya itu merupakan akibat dari kalimat sebelumnya (al-Khathib, al-Mu’jam al-Mufashshal fil I’râb, hlm. 305). Sehingga arti firman Allah “fayasubbû“, adalah “sebab kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, maka akibatnya mereka akan memaki Allah”.

Namum, jika wasilah itu hanya dikhawatirkan saja akan menghantarkan kepada yang haram, seperti keluarnya seorang perempuan tanpa memakai cadar (niqab) yang dikhawatirkan akan menghantarkan kepada fitnah, maka wasilah yang seperti ini tidaklah haram, karena khawatir saja belum cukup untuk mengharamkan sesuatu (An-Nabhani, Muqaddimah ad-Dustûr, hlm. 88). Dengan demikian, wasilah yang haram adalah wasilah yang diduga kuat (ghalaba ‘ala adz-dzan) akan menghantarkan kepada sesuatu yang haram, jika tidak, maka ia tetap mubah.

Tidak Semuanya Haram

Allah SWT telah memubahkan segala sesuatu dengan dalil-dalil umum, sebagaimana firman-Nya:

[أَلَمْ تَرَوْا أَنَّ اللَّهَ سَخَّرَ لَكُمْ مَا فِي السَّمَوَاتِ وَمَا فِي اْلأَرْضِ]

Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan) mu apa yang di langit dan apa yang di bumi.” (TQS. Luqman [31] : 20).

Dan Allah SWT telah mengecualikan sebagian dari sesuatu itu, lalu mengharamkannya dengan dalil khusus, seperti firman-Nya:

[حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ وَالْمُنْخَنِقَةُ وَالْمَوْقُوذَةُ وَالْمُتَرَدِّيَةُ وَالنَّطِيحَةُ وَمَا أَكَلَ السَّبُعُ إِلاَّ مَا ذَكَّيْتُمْ وَمَا ذُبِحَ عَلَى النُّصُبِ ]

Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala.” (TQS. Al-Maidah [5] : 3).

Sehingga apabila ada sebagian sesuatu yang berbahaya atau menyebabkan bahaya, maka sebagian itu saja yang haram, sedang hukum sesuatu itu secara umum tetap mubah. Dalam hal ini kaidan syariah mengatakan:

الشَّيْءُ الْمُبَاحُ إِذَا أَوْصَلَ فَرْدٌ مِنْ أَفْرَادِهِ إِلىَ ضَرَرٍ حَرُمَ ذَلِكَ الْفَرْدُ وَحْدَهُ وَ بَقِيَ الشَّيْءُ مُبَاحًا

Sesuatu yang mubah apabila bagian dari bagian-bagiannya menyebabkan bahaya, maka bagian itu saja yang diharamkan, dan sesuatu itu tetap mubah.
Dalil atas kaidah ini adalah hadis riwayat Ibnu Hisyam bahwa Rasulullah Saw ketika melewati al-Hijr (perkampungan Tsamud kaum Shaleh), beliau berhenti dan para sahabat mengambil air dari sumurnya. Ketika semua beristirahat di sore hari, Rasulullah Saw bersabda:

((لاَ تَشْرَبُوْا مِنْ مَائِهَا شَيْئًا، وَلاَ تَتَوَضَّئُوْا مِنْهُ لِلصَّلاَةِ، وَمَا كَانَ مِنْ عَجِيْنٍ عَجَنْتُمُوْهُ فَاعْلِفُوْهُ الإِبِلَ، وَلاَ تَأْكُلُوْا مِنْهُ شَيْئًا، وَلاَ يَخْرُجَنَّ أَحَدٌ مِنْكُمْ اللَّيْلَةَ إِلاَّ وَمَعَهُ صَاحِبٌ لَهُ))

Jangan kalian minun sedikit pun dari airnya, dan jangan kalian berwudlu’ darinya untuk shalat. Sementara adonan roti yang telah kalian buat, berikanlah kepada unta, dan sedikit pun kalian jangan memakannya; serta janganlah seseorang dari kalian ada yang pergi malam ini, kecuali ada yang menemaninya.” (Ibnu Hisyam, Sîrah Ibnu Hisyâm, IV/296).

Sesungguhnya Allah SWT telah memubahkan air dan meminumnya, namun meminum air sumur Tsamud ketika itu adalah haram, karena berbahaya. Begitu juga, Allah SWT telah memubahkah perbuatan-perbuatan jibiliyah (pembawaan manusia), seperti makan, minum, berjalan dan sebagainya, sehingga pergi di malam hari sendirian adalah mubah, namun pergi sendirian pada malam itu bagi tentara adalah haram, karena berbahaya. Artinya, jika ada bagian dari sesuatu yang mubah yang menyebabkan bahaya, maka bagian itu saja yang haram, sedang sesuatu yang sama hukumnya tetap mubah (An-Nabhani, Muqaddimah ad-Dustûr, hlm. 89).

Dengan kata lain, jika sesuatu yang mubah itu bagi sebagian orang membahayakan dirinya, atau menyebabkan ia tidak dapat melakukan kewajiban-kewajiban syariah, maka sesuatu itu haram bagi dirinya saja, sementara bagi yang lain tetap mubah. Dan apabila sesuatu itu tidak sampai membahayakan dirinya, maka sesuatu itu mubah bagi dirinya dan juga bagi yang lainnya (Abdullah, Mafâhîm Islâmiyah juz II, hlm. 155).

Dalam realitas kehidupan manusia sekarang yang diatur dengan undang-undang yang tidak bersumber dari akidah umat, bahkan memaksakannya dengan kehidupan sekuler, yang menjadikannya semakin jauh dari aturan agama, maka kemajuan teknologi dan wasilah-wasilah yang diciptakannya itu justru dijadikan wasilah (alat dan media) untuk mempermudah dalam melakukan perbuatan-perbuatan yang diharamkan Allah dan Rasul-Nya.

Sehingga dengan ketetapan undang-undang ini, khususnya pasal 15, negara Khilafah akan mengarahkan dan menjaga agar wasilah-wasilah itu tetap pada tujuan awal diciptakannya, yaitu memberikan manfaat positif, dan tidak lagi menjadi pintu kemaksiatan bagi warganya; atau mencegah adanya sesuatu yang membahayakannya, serta yang menyebabkannya tidak mampu (lalai) untuk melakukan kewajiban-kewajiban syariah. WalLâhu a’lam bish-shawâb.(muhammad bajuri)

Daftar Bacaan

Abdullah, Muhammad Husain, Mafâhîm Islâmiyah juz II, (Beirut: Dar al-Bayariq), cetakan I, 1996.

Anis, Dr. Ibrahim, dkk, al-Mu’jam al-Wasîth, (tanpa penerbit), Cetakan II, tanpa tahun.

Al-Fayumi, Ahmad bin Muhammad bin Ali al-Muqri, al-Mishbâh al-Munîr fi Gharîbisy Syarh al-Kabîr li ar-Râfi’i, (Jakarta: Dinamika Berkah Utama), tanpa tahun.

Ibnul Faris, Abul Husain Ahmad bin Faris bin Zakaria ar-Razi, Maqâyîs al-Lughah, (Ittihad al-Kitab al-Arab), 2002. Program al-Maktabah al-Syamilah.

Ibnu Hisyam, Abdul Malik, Sîrah Ibnu Hisyâm, (Dar al-Ma’rifah), tanpa tahun.

Ibnu Katsir, Ismail bin Umar Abul Fida’ Imaduddin ad-Dimasyqi, al-Bidâyah wa an-Nihâyah, (Beirut: Maktabah al-Ma’arif), 1995.

Al-Jurjani, Asy-Syarif Ali bin Muhammad, Kitâb al-Ta’rîfât, (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah), Cetakan III, 1988.

Al-Khathib, Thahir Yusuf, al-Mu’jam al-Mufashshal fil I’râb, (Al-Haramain), tanpa tahun.

Al-Manawi, Muhammad Abdur Rauf, at-Tauqîf ‘ala Muhimmâti at-Ta’ârîf, (Beirut: Dar al-Fikr al-Mu’ashir), Cetakan I, 1989. Program al-Maktabah al-Syamilah.

An-Nabhani, Asy-Syaikh Taqiyuddih, Muqaddimah ad-Dustûr aw al-Asbâb al-Mujîbah Lahu, Jilid I, (Beirut: Darul Ummah), Cetakan II, 2009.
Ath-Thabari, Muhammad bin Jarir bin Yazid, Tafsîr ath-Thabari, (Dar al-Ma’rifah), 1990.

HIJRAH & PENGORBANAN







HIJRAH & PENGRONBANAN :
FIZIKAL DAN MENTAL


Mukadimah

Disember adalah bulan terakhir dalam kalendar Masehi dan secara kebetulan Disember 2009 berada dalam bulan Zulhijjah 1430, iaitu bulan terakhir dalam kalendar hijriyah.  Penghujung tahun amat sinonim dengan kompilasi pelbagai peristiwa dan kisah yang berlaku dalam tahun tersebut, begitu juga dengan tahun 2009M/1430H yang kita sedang lalui ini. Dalam bulan terakhir kalendar Islam, kita menyambut perayaan kedua umat Islam iaitu sambutan Eidul Adha atau Hari Raya Korban. Lazimnya, tanggal 10 Zulhijjah setiap tahun, umat Islam di tanah suci menyempurnakan ibadah Haji mereka dan berkorban tanda kesyukuran. Begitu juga ummat Islam yang lain yang di muka bumi ini yang ‘mampu’ untuk melakukan ibadah korban. Signifikan kepada ibadah korban ini adalah kisah pengorbanan suci Nabi Ibrahim Alaihissalam mengorbankan puteranya Nabi Ismail Alaihissalam demi mentaati perintah Rabbnya.

Manakala selepas sahaja mentari merah Zulhijjah 1430 Hijrah berlabuh, sinar Muharram 1431H segera menjelma. Dalam bulan Muharam ada pula sambutan Ma’al Hijrah yang disambut sempena tahun baru kalendar Islam dan sebagai mengenang satu peristiwa agung dalam sejarah umat Islam iaitu peristiwa Hijrah Rasulullah dari Mekah ke Madinah. Peristiwa hijrah ini telah direkodkan dalam catatan mutawatir tentang bagaimana peristiwa tersebut telah menjadi momentum kepada sejarah keunggulan dan keagungan Islam. Kehebatan dan keunggulan Islam yang pernah menggegar dunia satu ketika dulu telah dibuktikan secara historik dan empirik oleh para sejarawan. “Di sini di bumi Turki, kami merasa puas hati. Kami memiliki harta yang melimpah ruah, banyak emas dan perak dalam kekuasaan kami. Kami tidak dizalimi dengan cukai yang membebankan dan kami bebas berdagang dan tidak dikekang. Muka bumi juga subur dan mengeluarkan hasil serta kekayaan. Semua barang mampu dimiliki dengan harga murah dan setiap orang hidup secara bebas. Disini, orang Yahudi tidak dipaksa memakai bintang kuning sebagai simbol memalukan seperti di Jerman yang mana kekayaan dan kemakmuran adalah satu sumpahan kepada orang Yahudi kerana menimbulkan perasaan cemburu dalam kalangan orang Kristian yang akan berusaha merompak kekayaan orang Yahudi. Bangkitlah saudaraku, kuatkan semangatmu, mantapkan barisanmu  dan datanglah kepada kami” [Rabbi di Turki menulis surat kepada saudara-saudaranya di Eropah yang sedang hebat dihukum selepas 1453 Masehi dalam buku ‘Constantinople, Philip Mansel]. Peristiwa Hijrah juga adalah berkenaan dengan konsep ketaatan kepada perintah Rasulullah Sallallahu Alihi wa Sallam demi memastikan kesinambungan Islam itu terus menyinar. Menghayati dan mengambil iktibar dari dua peristiwa ini sudah cukup membuktikan dan mencerminkan betapa hebatnya nilai keimanan seorang hambanya terhadap segala perintah yang ditentukan. Sebagai wanita dan ibu, persoalan yang mesti dileraikan adalah bagaimana dan setakat mana pula kefahaman kita untuk mendalami konsep hijrah dan pengorbanan dalam realiti hari ini?


Realiti hari ini


Menelusuri segala kisah dan peristiwa yang berlaku cukup mencerminkan betapa parahnya institusi masyarakat dan negara pada masa ini. Ada yang berpendapat bahawa setiap individu sebenarnya bertanggungjawab atas apa yang telah berlaku. Benarkah begitu? Mari kita lontarkan sejenak pemikiran kita kepada petikan-petikan akhbar sepanjang tahun 2009. Petikan akhbar ini adalah berkaitan dengan kes salah laku, dan juga jenayah yang melibatkan kanak-kanak dan remaja perempuan. Berikut adalah sebahagian dari paparan akhbar yang mewarnai 2009.

1.    JOHOR BAHRU 31 Dis. - Seorang guru sekolah menengah dihadapkan ke Mahkamah Sesyen di sini hari ini atas tuduhan merogol pelajarnya sehingga mengandung yang didakwa dilakukan pada 24 Mei 2007[UM 01/01/09]

2.    KUANTAN 30 Jun - Seorang gadis berusia 14 tahun menjadi mangsa nafsu serakah bapa tirinya apabila dirogol di tepi semak di Perkampungan Orang Asli Sak Betau, Kuala Lipis, Jumaat lalu [UM 01/07/09].

4.    Ibu tinggal bayi pada pelajar perempuan

KUANTAN 1 Sept. — Seorang pelajar perempuan tergamam apabila didatangi seorang wanita yang memintanya menjaga seorang bayi berusia beberapa hari di Kampung Sungai Karang Darat di sini, dua hari lepas [UM 01/09/09].


Pelbagai kisah dan peristiwa yang berkaitan dengan masyarakat dan masalah sosial yang melibatkan anak-anak kecil mahupun remaja, sama ada melakukan jenayah ataupun menjadi mangsa kepada jenayah merupakan tajuk wajib di akhbar-akhbar juga media arus perdana seperti laman sesawang, blog dan sebagainya.  Dek kerana terlalu kerap permasalahan ini berlaku, ia seolah-olah tiada penghujungnya lagi bagi segala kisah duka dan sedih ini. Satu persoalan yang mungkin muncul di benak kita, apa yang akan terjadi kepada anak-anak ini? Seperti biasa jika berlaku kisah dan peristiwa yang berkenaan, muncullah pula sejenis penyakit yang lebih merbahaya iaitu virus “tuding-menuding jari”.  Saling salah menyalahi antara satu sama lain.  Pihak yang mentadbir akan menyalahkan pihak agamawan, manakala pihak sekolah menyalahkan ibu bapa. Begitulah juga yang berlaku sebaliknya. Akhirnya masalah sedia ada belum selesai secara hakiki, masalah baru pula muncul.  Inilah realiti yang berlaku apabila terjadi  apa jua kisah, peristiwa mahupun kes-kes jenayah.


Muhasabah


Selaras dengan matlamat penerbitan FU sebagai sajian Islamik untuk mendidik fikrah wanita, di sini apa yang hendak dipaparkan adalah kupasan utama bagaimana peranan ibu dalam membantu menyelesaikan isu yang sedang dibincangkan.  Dalam mendidik umat atau masyarakat, sebenarnya ia bermula dari gelanggang yang sangat kecil iaitu rumah.  Allah Subhanahu wa Taala telah menetapkankan bahawa fungsi utama ibu sangat besar dalam mempengaruhi setiap individu, yang mana dari seorang individu tersebut seterusnya akan membentuk masyarakat.  Ibu adalah ‘madrasatul ula’- sekolah awal bagi anak-anak.  Ibulah yang menjadi ejen utama pembekal informasi kepada anaknya.  Nabi Muhammad Sallahu Alaihi wa Sallam pernah bersabda yang bermaksud: “Anak itu dilahirkan dalam keadaan fitrah. Orang tuanyalah yang akan menjadikan anak tersebut sama ada menjadi Yahudi, Nasrani atau Majusi.” [HR Bukhari]

Kenapa wanita?  Ini kerana secara fitrahnya Allah Subhanahu wa Taala memang telah mengkhususkan hanya wanita yang layak bergelar ibu dan menjalankan segala tugas yang diamanahkan sebagai ibu.  Tiada lelaki yang mampu menggantikan tugas mulia tersebut. Dimulai berlakunya persenyawaan sperma di dalam rahimnya seterusnya menjadi janin yang dikandungkannya selama 9 bulan 10 hari, yang pastinya bukan sedikit pengorbanan yang dilakukannya.  Tanpa kerelaan dan keikhlasan seorang ibu, mustahil anak tersebut mampu hidup sempurna dalam kandungannya.  Namun yang pastinya tugas itu adalah khusus buat si ibu. Selepas kelahiran bayi tersebut, tugas menyusu dan mengasuh juga adalah menjadi keutamaannya. Jadi disinilah hujahnya mengapa Allah Subhanahu wa Taala meletakkan ibu sebagai insan yang menggalas tanggungjawab mendidik anak-anaknya.  Maha Hebatnya Allah selaku Pencipta setiap makhluk, memastikan wanita dapat menjalankan tanggungjawab itu dengan baik dan sesempurna yang mampu. Allah Subhanahu wa Taala telah memberikan banyak keringanan (rukhsah) dan kemudahan buatnya, antaranya adalah;  Pertama, wanita tidak wajib menafkahi dirinya apatah lagi orang lain. Kedua, dibenarkan untuk tidak berpuasa dalam bulan Ramadhan bagi wanita yang hamil dan menyusukan.  "Seorang wanita yang redha mengandung bayi hasil perhubungan dengan suaminya yang sah dan suaminya redha pula kepadanya, maka Allah akan memberi ganjaran pahala sepertimana pahala puasa fisabilillah. Bila dia merasa sakit ketika akan melahirkan anak, maka Allah tambah lagi pahala yang tidak terkira oleh manusia oleh kerana terlalu banyaknya. Bila telah melahirkan anak dan dia menyusu dengan susunya sendiri, maka setiap seteguk susunya, Allah berikan satu kebajikan. Bila dia semalaman tidak tidur kerana mengawasi (menjaga) anaknya yang sekejap-sekejap menangis, sakit dan sebagainya, maka Allah beri lagi pahala seperti memerdekakan 70 orang hamba dalam fisabilillah dengan ikhlas." [HR Hassan bin Sofwan, At Tabrani, Ibnu Asakir]  Semua hukum tersebut adalah dalam rangka Allah Subhanahu wa Taala melindungi wanita agar tugas utamanya sebagai ibu terlaksana dengan baik.

Kenapa ibu??  Ibu adalah manusia pertama yang dikenali oleh anak.  Interaksi ibu-anak ini bermula sejak anak tersebut masih dalam kandungannya, kerana itulah mengapa ibu juga dianggap sebagai sekolah awal bagi anak.  Ibu juga adalah acuan penting untuk membentuk segala perilaku anak.  Terlalu pentingnya tugas ibu terhadap Negara dan masyarakat sehingga peranannya ‘mencetak’ kualiti anak itu dianggap sebagai tiang Negara.

Dekatnya hubungan fizikal dan emosi ibu telah terjalin secara semulajadi, mulai dari fasa mengandung, melahirkan, menyusukan sehinggalah mengasuhnya, kasih sayang seorang ibu merupakan jaminan utama dalam membentuk perkembangan yang sihat buat anak.

Anak umpama radar yang dapat mengesan segala objek yang ada di sekelilingnya, perilaku dan pengaruh ibu memberi pengaruh yang amat besar dalam pembentukan peribadi anak.  Contoh terbaik dalam kisah ini adalah hebatnya si ibu yang bernama Asma’ Binti Abu Bakar, iparnya Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam. Beliau adalah ibu kepada Abdullah Bin Zubair salah seorang pejuang Islam yang hebat di zamannya dan dikenang hingga kini.

Keperibadiaan anak terbentuk dari olahan ibunya menanamkan batu asas dalam pemikiran anak-anaknya.  Jika anak ditanam dengan asas tsaqafah (culture) dan aqidah yang benar iaitu aqidah Islam, Insyaallah segala perilaku dan keperibadiaan anak tersebut akan selaras sebagaimana yang telah diolah tadi. Keluarga menjadi wadah pertama bagi menanamkan pembinaan Islam dalam jiwa anak. Sejak dari awal anak ini perlu dipupuk rasa cintanya terhadap Allah Subhanahu wa Taala dan Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam. Tanda aras untuk menentukan keberhasilan rasa cinta itu disemai adalah anak-anak akan mudah dan rela dibentuk untuk melakukan segala perintah Allah yang telah ditetapkan.  Si anak yang berjaya dididik tadi tidak akan merasakan bahawa segala kewajipan itu adalah beban ke atasnya dan setiap kefardhuan akan dilaksanakan dengan penuh redha dan bukannya kerana terpaksa.

Kewujudan ibu dalam pembentukan jiwa anak adalah sangat penting, kerana bila anak kehilangan ibu yang berperanan dan berfungsi kepadanya, anak akan kehilangan bimbingan, kasih sayang dan segala yang wajar dimiliki oleh si anak. Kegagalan si ibu memainkan peranan akan menyebabkan si anak mengalami tekanan emosi dan seterusnya gangguan jiwa yang bakal merencatkan masa depan anak tersebut. Kehilangan ‘aura’ ibu secara fizikal dan juga peranannya menanam kekuatan dalam pembentukan jiwa si anak akan menyebabkan berlakunya kecacatan dari segi perkembangan peribadi anak tersebut.


Bagaimana mengembalikan Fungsi Ibu sebagai Tiang Negara


Dalam keadaan sekarang banyak faktor yang menyebabkan terabainya peranan utama ibu tersebut. Antaranya ialah faktor ekonomi yang mana wanita perlu bekerja untuk membantu suami dan keluarga. Hukum bekerja bagi seorang wanita adalah mubah (harus), ini kerana “Wanita itu tidak wajib menafkahi dirinya apatah lagi orang lain”. Walaupun seorang wanita itu bekerjaya, tugasnya yang utama adalah sebagai ibu dan pengurus rumahtangga. Tanggungjawab ini adalah ‘full time job’nya, sedangkan kerjaya di luar itu adalah sebagai ‘part-time job’nya. Namun yang banyak berlaku adalah jelas kontra dengan apa yang sepatutnya.

Pelbagai justifikasi diwujudkan dalam rangka memujuk fitrah si ibu yang merasa bersalah dan tertekan bila mana terpaksa bertugas dalam keadaan anak sakit atau anak amat memerlukan kehadiran ibu di sisinya. Antara lain adalah wanita yang bekerja ini sering dianggap ‘super mummy’. Namun benarkah wanita bekerjaya menjadi penyumbang kepada kerosakan fungsi tersebut? Hakikatnya walaupun si ibu tidak bekerja iaitu menjadi suri rumah sepenuh masa dan memiliki begitu banyak masa lapang, adakah sebarang jaminan anaknya akan terdidik sebaik mungkin? Ironinya bila si ibu terlalu banyak masa lapang, dia menjadi peminat setia rancangan telenovela ataupun sinetron yang tidak terkirakan puluhan tayangan disajikan di kaca televisyen setiap hari. Walaupun tugas dan tanggungjawabnya tetap sebagai  ibu, tetapi dia tidak berperanan sebagai pencetak generasi yang baik kerana tidak memiliki kualiti yang diperlukan. Tinggi rendahnya kualiti si anak adalah bergantung kepada tinggi rendahnya juga kualiti si ibu dalam membawa halatuju si anak.
Antara kriteria kualiti ibu yang diperlukan adalah: Pertama, memiliki aqidah dan syakhsiyyah Islam. Ibu yang memiliki ciri pertama ini akan meyakini bahawa anak adalah amanah dari Allah Subhanahu wa Taala yang akan diminta pertanggungjawaban di akhirat kelak.  Ibu ini akan melakukan segala hal yang berkaitan anaknya dengan sebaiknya seperti pengasuhan dan pendidikan jangka panjang dan pendek.  Kedua, memiliki satu kesedaran bahawa pendidikan anak-anak itu adalah aset ummah (masyarakat) yang berharga.  Ibu perlu menyedari bahawa usahanya mendidik anak bukan sekadar agar anak tersebut dapat menjaga dan menafkahinya semasa dia tua nanti, tapi ia akan mendidik anaknya untuk prihatin dengan lingkungan masyarakat sekeliling iaitu ‘amar makruf nahi mungkar’.  Dia akan membentuk satu pandangan umum terhadap anaknya bahawa anak tersebut wajib bertanggungjawab dan berjuang untuk membangunkan kembali umat selaras dengan kehendak Yang Maha Pencipta.  Sebagaimana yang telah dinyatakan dengan kalamNya yang bermaksud: “Kalian adalah ummat yang terbaik yang dilahirkan bagi manusia, menyeru kepada yang makruf dan mencegah daripada yang mungkar, serta beriman kepada Allah.” [TMQ Al- Imran: 110].  Ketiga, memiliki pengetahuan dan menguasai konsep pendidikan anak.  Seorang ibu wajib menyediakan ilmu pengetahuan dan menguasainya sebelum dia bergelar ibu lagi, kerana ia merupakan persiapan awal dalam merancang menjadi seorang ibu yang berkualiti. Menurut pakar perkembangan kanak-kanak, antara asas pendidikan anak yang perlu diketahui oleh seorang ibu adalah;  (a) Setiap anak memiliki karaktor yang berbeza sehingga setiap anak perlu didekati dengan kaedah yang berbeza juga.  (b)  Setiap anak memiliki perbezaan dalam tahap penerimaan dan menerimapakai pendidikan yang diterimanya, di sinilah perlunya perjuangan sabar dan tidak boleh membandingkan kemampuan antara setiap anak. (c) Anak-anak kecil amat cepat menyerap maklumat lingkungan yang ada di sekelilingnya. Atas kesedaran ini maka ibu perlulah memasukkan maklumat yang Islami terhadapnya supaya anak belajar tanpa rasa terbeban [Mengembalikan Fungsi Ibu Sebagai Pengatur Rumah tangga, HTI (2005)].


Khatimah

Dalam era globalisasi ini, inilah teladan hijrah dan pengorbanan yang perlu dilakukan bagi setiap wanita bergelar ibu. Hijrah dan lakukanlah pengorbanan yang selaras dengan tuntutanNya. Letakkan keutamaan di atas keutamaan. Tugas utama kita adalah sebagai pembentuk generasi yang bakal membentuk mayarakat. Kita perlu olah kembali cara berfikir kita, kita perlu berubah secara mental dan fizikal demi untuk menggapai redha-Nya. Demi anak yang kita akan diminta pertanggungjawaban di akhirat kelak, usah kita terlalu mudah meng’sub-con’kan tugas mulia ini. Jangan kita mengambil sambil lewa urusan pendidikan anak kita. Bukan hanya pemenuhan material yang anak dambakan, tapi perhatian, pendidikan dan kasih sayang yang tulus dari ibu yang mengandungkannya. Biar apa juga alasan, biar sekuat mana dugaan, jangan abaikan tugasan ini, jangan pandang remeh amanah ini.  Ibu adalah tiang Negara.

Wahai muslimat yang di rahmati Allah Subhanahu wa Taala,
Sedarlah kalian semua, kembalilah kepada Islam sebagai cara dan gaya hidup kita.  Cerahkanlah kembali pemikiran kita agar suci dari pemikiran asing yang rosak lagi menghancurkan. Musuh-musuh Islam tidak pernah mengalah untuk menghancurkan Islam dari segi fizikal dan mental, perjuangan mereka akan bersifat abadi.  Ini jelas dinyatakan oleh Allah Subhanahu wa Taala dalam firmanNya yang bermaksud: “Sekali-kali orang Yahudi dan Nasrani itu tidak akan redha terhadap kamu sehinggalah kamu mengikut cara hidup mereka.” [TMQ al-Baqarah 2: 120].

Beratnya tanggungjawab dipikul ibu, mampukah kita melaksanakannya? Dalam dunia yang rosak tanpa dinaungi pemerintahan dan sistem Islam secara syumul, sememangnya tugasan dan tanggungjawab itu seolah tidak mampu kita lalui. Ini adalah kerana sehebat mana pendidikan yang dilaksanakan, seandainya persekitaran dan sistem yang tidak sehaluan menyebabkan anak-anak tidak terbela nasibnya.  Mahu atau tidak kita wajib akui bahawa kita memerlukan satu institusi, satu sistem yang dapat menjaga dan membela kita, amanah kita dan persekitaran anak-anak kita.  Hanya satu penyelesaian yang kita ada, jalan keluar yang amat mendesak untuk memiliki sebuah institusi yang melaksanakan syariah secara kaffah iaitu khilafah kerana dengannya seluruh hukum hakam akan terlaksana secara keseluruhan termasuk sistem pendidikan yang akan menjana pemikiran jernih dengan fikrah Islam dari anak-anak yang merupakan pelapis generasi akan datang. Wallahu’alam.
 

MENGENAL HIZBUT TAHRIR