ISLAM AGAMA SYUMUL

FIRMAN ALLAH SUBHANAHU WA TA'ALA; "Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah kalian ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah syaithan, kerana sesungguhnya syaithan itu adalah musuh yang nyata bagi kalian." [TMQ AL-BAQARAH(2):208]

MASA ITU EMAS

JIHAD AN-NAFS (JIHAD HAWA NAFSU)

JIHAD AN-NAFS
(JIHAD HAWA NAFSU)


«الْمُجَاهِدُ مَنْ جَاهَدَ نَفْسَهُ»
Orang yang berjihad adalah orang yang memerangi hawa nafsunya
(HR Ahmad, Tirmizi, al-Hakim dan al-Baihaqi).

SANAD HADIS

Imam at-Tirmizi dalam Sunan at-Tirmizi menerima hadis ini berturut-turut dari Ahmad bin Muhammad, dari Abdullah bin al-Mubarak, dari Haywah bin Syuraih dari Abu Hani' al-Khawlani, dari Amr bin Malik al-Janbi, dari Fudhalah bin 'Ubayd. Imam at-Tirmizi menyatakan, hadis Fudhalah adalah hadis hasan sahih.

Imam Ahmad dalam Musnad Ahmad mengeluarkan hadis di atas melalui tiga sanad.
Pertama: dari Ali bin Ishaq, dari Abdullah, dari Laits dari Abu Hani' al-Khawlani, dari Amr bin Malik al-Janbiy dari Fudhalah bin Ubayd.

Kedua: dari Qutaybah bin Said, dari Risydi bin Saad, dari Humaid Abu Hani' al-Khawlani, dari Amr bin Malik, dari Fudhalah bin Ubayd. Dalam kedua sanad ini ada tambahan fi tha'atillah (dalam ketaatan kepada Allah).

Ketiga: dari Ali bin Ishaq, dari Abdullah, dari Laits, dari Abu Hani' al-Khawlani, dari Amr bin Malik al-Janbi, dari Fudhalah bin Ubayd.

Dalam al-Mustadrak, Al-Hakim menerimanya dari Abdurrahman bin al-Hasan bin Ahmad al-Qadhi, dari Ibrahim bin al-Husain, dari Said bin Abi Maryam dan Abdullah bin Shalih keduanya, dari Abu Hani' al-Khawlani, dari Amr bin Malik dari Fudhalah bin Ubayd.

Al-Baihaqi mengeluarkannya dalam Sya'b al-iman dari Abu Abdillah Muhammad bin al-Fadhl bin Nazhif al-Fara' di Makkah, dari Abu al-'Abbas Ahmad bin al-Hasan bin Ishaq ar-Razi, dari Yusuf bin Yazid bin Kamil, dari Abdullah bin Shalih, dari Laits bin Saad, dari Abu Hani' al-Khawlani, dari Amr bin Malik al-Janbi, dari Fudhalah bin Ubayd. Rasul mengucapkan hadis ini semasa menunaikan haji wada'.

Makna dan Faedah

Hadis ini menjelaskan bahawa jihad an-nafs itu disyariatkan dan dituntut oleh syariat. Menurut para ulama, perkara ini adalah fardhu. Seorang pun tidak dibenarkan mengingkari jihad an-nafs.

Namun, di tengah-tengah umat terdapat persepsi salah tentang jihad an-nafs, iaitu pemahaman bahawa jihad an-nafs merupakan jihad akbar dan jihad (perang) fi sabilillah adalah jihad kecil. Lalu hal itu dimaknai secara sempit bahawa kaum Muslimin mesti lebih mengutamakan jihad an-nafs dan mengabaikan jihad (perang) di jalan Allah. Persepsi demikian adalah salah, di antaranya kerana hadis yang dijadikan sandaran secara riwayat adalah dha'if, iaitu sabda Rasul saw.:
"رَجَعْنَا مِنَ اْلجِهَادِ اْلأَصْغَرِ إِلىَ اْلجِهَادِ اْلأَكْبَرِ. قَالُوْا: وَمَا اْلجِهَادُ اْلأَكْبَرُ؟ قَالَ: جِهَادُ النَّفْسِ"
"Kita baru kembali dari jihad kecil menuju jihad besar." Para sahabat bertanya, "Apakah jihad besar itu." Rasul menjawab, "Jihad melawan hawa nafsu." 1

Menurut Ibn Hajar al-Asqalani hadis tersebut bukan ucapan Nabi saw., melainkan perkataan Ibrahim bin Ablah.2

Dan hadis :
"قَدِمْتُمْ مِنْ خَيْرِ مَقْدَمٍ، وَقَدِمْتُمْ مِنْ الْجِهَادِ اْلأَصْغَرِ إِلَى الْجِهَادِ اْلأَكْبَرِ. قَالُوْا: وَمَا الْجِهَادُ اْلأَكْبَرُ؟ قَالَ: مُجَاهَدَةُ الْعَبْدِ هَوَاهُ"
Kamu telah datang dari sebaik-baik tempat berlalu dan kamu telah berlalu dari jihad kecil menuju jihad besar. Mereka berkata, "Apa jihad besar itu?" Nabi menjawab, "Jihad seorang hamba menundukkan hawa nafsunya." 3

Kerananya, jihad an-nafs mesti kita fahami secara benar. Kata jihad di sini menggunakan makna bahasanya, iaitu mengerahkan segenap kemampuan untuk menundukkan hawa nafsu dalam menjalankan ketaatan dan menjauhi larangan.

Ibn Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari mengutip ucapan Ibn Bathal bahwa jihad an-nafs itu terjadi dengan menghalangi diri dari melakukan kemaksiatan, mencegahnya dari berbagai syubhat dan dari memperbanyak kesenangan yang mubah untuk lebih mendahulukan visi akhirat.

Selanjutnya menurut al-Qusyairi, asal jihad an-nafs adalah memelihara diri dari kesenangan dan dorongan hawa nafsu. Nafsu memiliki dua sifat, iaitu asyik dalam kesenangan (syahwat) dan jauh dari ketaatan. Kerana itu, memerangi hawa nafsu bererti memerangi dua sifat itu.

Menurut para imam, jihad an-nafs adalah dengan membawa nafsu untuk mengikuti perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Jika seorang hamba kuat melakukannya, maka mudah baginya untuk berjihad memerangi musuh agama.

Jihad an-nafs ada empat tingkat: menundukkan hawa nafsu untuk mempelajari ketentuan agama, lalu menundukkannya untuk beramal sesuai dengan ketentuan agama itu, kemudian menundukkannya untuk mengajarkan ketentuan agama itu kepada orang yang belum tahu, dan selanjutnya menyerukan pengesaan Allah serta memerangi orang yang menyalahi agama-Nya dan mengingkari nikmat-nikmat-Nya.

Kesempurnaan jihad an-nafs adalah hendaknya seseorang selalu sedar terhadap nafsunya dalam setiap keadaan. Jika ia lengah maka syaitan akan memanfaatkannya dan mendorongnya agar jatuh dalam larangan Allah.4

Dengan demikian, berkaitan dengan jihad an-nafs itu:

Pertama, yang asasi adalah melaksanakan berbagai kewajipan dan meninggalkan keharaman; ditambah dengan melakukan amalan sunnah dan meninggalkan perkara makruh.

Kedua, hawa nafsu cenderung pada syahwat (kesenangan) semata adalah haram; dan tidak suka melaksanakan kewajipan (ketaatan) yang mengandungi kesukaran. Jihad an-nafs adalah dengan memaksa nafsu untuk melaksanakan kewajipan, menghalanginya dari melakukan keharaman, dan menundukkannya pada hukum-hukum Allah.

Ketiga, mengurangi melakukan kesenangan meskipun perkara mubah dan menjauhi hal yang kurang bermanfaat untuk lebih banyak melaksanakan kewajipan dan amalan sunnah.

Walhasil, jihad an-nafs tidaklah berkonfrontasi dengan berbagai kewajipan. Orang yang benar dalam melakukan jihad an-nafs justeru akan menjelma menjadi orang yang taat, giat, bersemangat, dan sungguh-sungguh melakukan berbagai kewajiban termasuk jihad fi sabilillah dan berjuang menegakkan syariah dan Khilafah Islamiyah. Orang yang melalaikan kewajipan ini dengan alasan jihad an-nafs, sesungguhnya ia telah berpaling dari kebenaran dan hanya berpura-pura melakukan jihad an-nafs. Wallah a'lam bi ash-shawab. [Yahya Abdurrahman]

Catatan Kaki :

Lihat: Mulla Ali al-Qari, Al-Asrar al-Marfu'ah fi Akhbar al-Mawdu'ah, hlm. 127; As-Suyuthi, Ad-Durur al-Muntatsirah fi al-Ahadis al-Musytahirah, i/244; al-Albani, Silsilah al-Ahadits adh-Dha'ifah, v/2460; Al-Jabri, al-Musytahir min al-Ahadits al-Mawdhu' wa adh-Dah'if wa Badil ash-Shahih

Lihat: Alauddin, Kanz al-Ummal, IV/616; Al-'Ajluni, Kasyf al-Khafa', i/511-512
Al-Baihaqi, Kitab az-Zuhd al-Kabir, ii/165; Muhammad Ahmad bin Jarillah ash-Shan'ani, Nawafih al-'Uthrah fi al-Ahadis al-Musytahirah, i/1225; al-Albani, Dha'if al-Jami' ash-Shaghir wa Ziyadatuh, hal. 4080

lihat, Ibn Hajar al-'Ashqalani, Fath al-Bari, xi/337-338

0 comments:

Post a Comment



 

MENGENAL HIZBUT TAHRIR