ISLAM AGAMA SYUMUL

FIRMAN ALLAH SUBHANAHU WA TA'ALA; "Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah kalian ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah syaithan, kerana sesungguhnya syaithan itu adalah musuh yang nyata bagi kalian." [TMQ AL-BAQARAH(2):208]

MASA ITU EMAS

7 PERKARA PENTING BERKAITAN DENGAN JIHAD

TUJUH PERKARA PENTING
BERKAITAN DENGAN JIHAD

Pertama: jihad adalah ajaran Islam yang hukumnya wajib bagi kaum Muslimin. Sebagaimana shalat, jihad adalah bahagian yang tidak terpisah dari ajaran Islam, bahkan termasuk kewajipan yang sangat agung.

Allah Swt. berfirman:
Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? Iaitu kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya serta berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwa kamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahuinya. (TMQ Ash-Shaff [61]: 10-11).
Ketika ditanya tentang siapakah manusia yang paling utama, Rasulullah saw. menjawab: Seorang Mukmin yang berjihad dengan harta dan jiwanya!Baginda saw. juga memberikan amaran kepada kita bahawa orang yang selama hidupnya tidak pernah berjihad dan tidak pernah berkata kepada dirinya untuk berjihad, maka dia mati dalam keadaan di dalam hatinya ada sifat nifaq! Na'udzubillah min dzalik!

Kedua: jihad sebagai kosakata dalam bahasa Arab mengandung makna bahasa mahupun makna syar'i. Secara bahasa, jihad bermakna: mengerahkan kemampuan dan tenaga yang ada, baik dengan perkataan maupun perbuatan (Fayruz Abadi, Kamus Al-Muhith). Dalam pengertian syar'i, umumnya para fukaha mendefinisikan jihad sebagai: upaya memerangi orang-orang kafir dalam rangka meninggikan kalimat Allah. Dalam Hasyiyah Ibn Abidin jihad dimaknai: upaya mengerahkan segenap kekuatan dalam perang fi sabilillah secara langsung mahupun memberikan bantuan kewangan, pendapat, atau memperbanyak angkatan, dan lain-lain (untuk memenangkan pertempuran).

Mengingat hukum jihad ini,ia diwajibkan setelah Nabi saw. hijrah ke Madinah, maka ayat-ayat Makkiyah yang memuat kata jihad lazimnya bermakna bahasa. Adapun ayat-ayat Madaniyah tentang jihad bermakna syar'i.

Ketiga: dengan makna syar'i-nya, yakni perang, jihad bersifat defensif mahupun ofensif. Jihad sebagai perang defensif (difa'i) dilakukan manakala kaum Muslimin atau negeri mereka diserang oleh orang-orang atau negara kafir, seperti di Afganistan dan Irak yang diserang dan diduduki AS sampai sekarang, juga Palestin yang dijajah Israel. Dalam keadaan seperti ini, Allah Swt. telah mewajibkan kaum Muslim untuk membalas tindakan penyerang dan mengusirnya dari tanah kaum Muslim (lihat QS al-Baqarah 190).

Keempat: jihad sebagai perang ofensif lazimnya dilakukan oleh Daulah Khilafah Islamiyah (DKI) sebagai sebuah institusi negara yang memimpin rakyat Muslim. Tugas DKI, selain menerapkan syariah dalam seluruh aspek kehidupan di dalam negeri, juga melakukan propaganda dan dakwah Islam ke luar negeri, untuk menyebarkan Islam sebagai risalah yang universal (lihat QS al-Anbiya [21]: 107; QS Saba' [34]: 28). DKI boleh membuat perjanjian-perjanjian damai dengan negara-negara kafir serta menempatkan duta besar dan seluruh utusan diplomatiknya. Tugas utama para duta besar ini adalah melakukan dakwah Islam, memperlihat dan menyebarkan Islam, memberikan gambaran yang jelas tentang kehidupan Islam dan penerapan undang-undangnya, serta memberikan keyakinan kepada penduduk negeri-negeri kafir untuk melihat sendiri kenyataan kehidupan Islam dengan penerapan hukum syariahnya di DKI. Bilamana dakwah yang merupakan seruan pemikiran (non-fizikal) menghadapi halangan fizikal dari penguasa negara kafir dengan kekuatan fizikal mereka, maka wajib bagi DKI mengerahkan tenteranya baik yang reguler mahupun cadangan-setiap Muslim adalah tentera cadangan-untuk mengangkat senjata, berjihad fi sabilillah di bawah pimpinan Khalifah. Tujuannya adalah untuk melindungi dakwah dan menghilangkan halangan-halangan fizikal yang ada di hadapannya. Inilah yang disebut dengan jihad ofensif (hujumi).

Jihad ofensif inilah yang dilakukan oleh Rasulullah saw. dan para Sahabat setelah mereka berhasil mendirikan Daulah Islam di Madinah. Mereka tidak pernah berhenti berjihad (berperang) dalam rangka menghilangkan halangan-halangan fizikal demi tersebarluasnya dakwah Islam dan demi tegaknya kalimat-kalimat Allah. Dengan jihad ofensif itulah Islam tersebar ke seluruh dunia dan wilayah kekuasaan Islam pun semakin meluas, menguasai berbagai belahan dunia. Ini adalah fakta sejarah yang tidak boleh dibantah. Bahkan jihad (perang) merupakan metod Islam dalam penyebaran dakwah Islam oleh negara (DKI).

Berbagai riwayat yang berkaitan dengan pengiriman pasukan jihad juga selalu berkaitan dengan dakwah, yakni sebagai pengawal dakwah Islam, dan merupakan pilihan terakhir bagi penguasa yang didatangi. Diriwayatkan bahawa setelah Perang Riddah, Khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq ra. memerintahkan kepada Khalid bin Walid ra. untuk bergerak ke Irak. Sesampai di kota Hirah, para pemimpin kota itu keluar menyambutnya. Khalid berkata kepada mereka, "Sesungguhnya aku menyeru kamu kepada Allah agar menyembah-Nya dan memeluk Islam. Jika kamu menerimanya maka kamu mendapatkan hak sebagaimana hak kami dan kamu juga mempunyai kewajipan seperti kewajipan kami. Jika kamu tidak bersedia maka kamu harus membayar jizyah. Jika kamu tidak bersedia juga maka kami akan membawa kepada kamu suatu kaum yang mencintai kematian seperti halnya kamu menyukai minum khamr!"Mereka menjawab, "Kami tidak berkepentingan untuk memerangimu."Khalid pun kemudian mengikat perjanjian damai dengan mereka, dengan ketentuan, mereka membayar jizyah sebesar 190 ribu dirham. Ini merupakan jizyah pertama yang dibawa dari Irak ke Madinah (Lihat: Ath-Thabari, Tarikh ath-Thabari, III/345).

Kelima:
jihad yang senantiasa mengawal dakwah adalah untuk mengukuhkan peradaban Islam untuk umat manusia. Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani, dalam kitab Ad-Dawlah al-Islamiyah, mengatakan bahawa tatkala hijrah ke kota Madinah, Rasulullah saw. membangun masyarakat baru dengan inti kaum Muhajirin (dari kota Makkah) dan kaum Anshar (pribumi kota Madinah), dengan asas peradabannya adalah akidah tauhid, La ilaha illa Allah Muhammad ar-Rasulullah. Peradaban yang dibangun dengan kalimat tauhid adalah peradaban yang membimbing manusia untuk berjalan di muka bumi dengan petunjuk Allah Swt. yang bersumber dari al-Quran dan Sunnah Rasul-Nya. Peradaban manusia yang dibimbing oleh syariah yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia ini telah mewujudkan jaminan atas perlindungan manusia seutuhnya; baik perlindungan atas keturunan manusia, kehormatan, akal, harta, jiwa, agama, keamanan, mahupun negaranya.

Ketika negeri-negeri dibebaskan, maka negeri-negeri itu dimasukkan ke dalam negara Islam. Hukum syariah pun diterapkan atas negeri-negeri tersebut. Kaum Muslimin menjaga keamanan negeri tersebut demi seluruh penduduk, baik yang masuk Islam mahupun tidak (ahlu dzimmah). Para mujahidin yang berjihad dalam berbagai keadaan, baik yang berhadapan dengan Romawi, Persia, Mesir, Afrika Utara, Cyprus dan lain-lain adalah para mujahid yang taat kepada Allah; yang rajin membaca dan menghafal al-Quran; yang menghafal hadis dan riwayat; serta yang faham atas halal dan haram yang ditetapkan Allah dan Rasul-Nya. Mereka adalah para qari' dan ulama yang melakukan gerakan kutural (harakah tsaqafiyah) setelah pembebasan negeri-negeri tersebut. Mereka mengajarkan hukum Islam, al-Quran, Sunnah Nabi, dan bahasa Arab. Para mujahidin tinggal dan hidup bergaul bersama penduduk negeri-negeri yang dibebaskan serta menunjukkan keteladanan dan sifat-sifat mereka yang luhur sehingga semakin memikat penduduk tersebut, hingga mereka pun rela hidup bersama kaum Muslimin yang menjamin harta, darah, dan kehormatan mereka. Tatkala Perang Salib, misalnya, kaum Nasrani di negeri Syam justru berpihak kepada kaum Muslimin dalam menghadapi tentara gabungan Salibis dari Eropa. Banyak bangsa yang juga masuk Islam secara umum/massal, misalnya bangsa Barbar di Afrika Utara, bangsa-bangsa di Asia Tengah, dan Bangsa Bosnia di Eropa. Bangsa-bangsa yang sudah masuk Islam mengalami perubahan budaya dan peradaban. Fikiran dan jiwa mereka berubah sehingga perilaku dan tradisi mereka pun berubah. Motivasi hidup mereka pun berubah dari sekadar memenuhi hawa nafsu, memuaskan keakuan dan keinginan-keinginan duniawi, menjadi kesungguhan untuk menjadikan pencapaian keredhaan Allah sebagai cita-cita tertinggi sekaligus makna kebahagiaan mereka. Bangsa Barbar yang semula dikenal biadab menjadi bangsa Muslim yang kuat, cerdas, dan beradab. Bahkan salah satu pemimpin mereka, Thariq bin Ziyad adalah pemimpin jenius yang mampu memimpin kaum Muslim membebaskan Andalusia. Selanjutnya Andalusia menjadi pusat peradaban baru di Eropa yang memberikan kekuatan besar bagi abad renaisan di Eropa.

Keenam: umat Islam mengalami kemerosotan dalam segala aspek kehidupan, khususnya tatkala mereka menghentikan jihad fi sabilillah pada tahun 1856, yakni tatkala Khilafah mengajukan diri bergabung dengan Liga Bangsa-Bangsa (yang hakikatnya adalah kumpulan negara-negara Nasrani Eropa) dengan syarat:

(1) menghentikan politik luar negeri Islam: dakwah dan jihad fisabilillah

(2) memasukkan hukum-hukum barat ke dalam sistem hukum Daulah Khilafah Islamiyah (Lihat: Abdul Qadim Zallum, Afkar Siyasiyyah). Jihad dalam perspektif dakwah dan peradaban ini semakin tidak mampu wujud tatkala institusi pelaksananya, yakni Khilafah Islamiyah, diruntuhkan oleh kekuatan Barat melalui agen Inggeris, Mustafa Kamal at-Taturk, dan diganti dengan sistem Republik Turki pada tahun 1924.

Ketujuh: sebagai penutup, kita perlu merenungkan mengapa realiti peradaban kaum Muslimin hari ini, yang mengalami ketertinggalan dari berbagai peradaban kaum lain. Kaum Muslimin pun terjajah dan tertindas di berbagai negeri.
Barangkali jawapannya ada dalam hadis Nabis Muhammad saw.:
Jika kamu berjual-beli barang dagangan dengan cara al-'inah, membajak sawah dan ladang, rela bertani, dan meninggalkan jihad, niscaya Allah akan menimpakan (menguasakan) kehinaan kepada kamu dan kehinaan itu tak akan dicabut sampai kamu kembali pada agama kalian. (HR Ahmad dan Abu Dawud).

Jadi, kalau umat ini ingin membebaskan diri dari kongkongan kaum kapitalis Barat imperialis, maka mereka mesti kembali pada agama Islam secara kaffah dengan mendirikan kembali Khilafah Islamiyah. Khilafah Islamiyah 'ala minhaj an-Nubuwah inilah yang akan menegakkan seluruh hukum syariah secara syumul-bukan sekadar wacana-dan memotivasi umat untuk berjihad mengusir dominasi AS dan sekutu-sekutu imperialisnya dari Dunia Islam.

0 comments:

Post a Comment



 

MENGENAL HIZBUT TAHRIR