ISLAM AGAMA SYUMUL

FIRMAN ALLAH SUBHANAHU WA TA'ALA; "Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah kalian ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah syaithan, kerana sesungguhnya syaithan itu adalah musuh yang nyata bagi kalian." [TMQ AL-BAQARAH(2):208]

MASA ITU EMAS

UMUR DAN KERAGUAN

.::Umur Dan Keraguan::.


Kita mesti meyakini bahawa umur telah ditetapkan oleh Allah SWT terhadap seluruh makhluknya, kemudian menjadi rahsia Allah SWT tentang panjang-pendeknya umur seseorang dan dengan cara bagaimana seseorang meninggal. Kita tidak tahu bila kita akan meninggal dan bagaimana? Pada masa Allah SWT memberikan ketetapan terhadap umur kita, maka Allah SWT telah memberikan "modal yang sangat berharga" kepada manusia, yakni umurnya. Umur yang diberikan Allah SWT sangat pendek atau Allah SWT memberikan batasan waktu kepada manusia, sehingga harus dimanfaatkan sebaik mungkin.


Dalam surat al-`Ashr [103] Allah SWT bersumpah dengan waktu, umur boleh juga diertikan dengan waktu,Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal soleh dan nasihat-menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran. (TMQ. al-`Ashr [103]: 1-3).


Allah SWT bersumpah demi waktu bahawa seluruh manusia (muslim atau kafir) akan merugi, kecuali orang-orang yang beriman, mengerjakan ibadah, berda'wah dan bersabar. Bersabar dapat difahami melalui 3 hal iaitu:

1). Sabar dalam keta'atan.

2). Sabar dalam menjauhi kemaksiaatan.

3). Sabar dalam menerima musibah.


Tafsir Ar-Razi menghuraikan keterkaitan antara "waktu" dengan "kerugian". Waktu adalah modal,kalau kita tidak mengusahakan modal dengan baik dalam perniagaan maka kita akan mengalami kerugian bahkan boleh menjadi bangkrap.Begitu juga dengan umur, jika tidak dimanfaatkan dengan baik maka kita akan merugi.Jika hari ini lebih baik dari kelmarin maka kita adalah orang yang beruntung, jika hari ini sama dengan kelmarin maka kita adalah orang yang merugi, tetapi jika hari ini lebih buruk dari kelmarin maka kita adalah orang yang celaka.Wal'iyazubillahi Minzalik. Jika kita tidak memanfaatkan umur dengan baik, maka terus-menerus kita akan mengalami kerugian yang besar. Kerana Allah SWT tidak akan pernah menambah modal (umur) yang telah diberikannya kepada kita, bahkan tidak akan mengundurnya sedetik-juapun jika masanya telah tiba,Dan bagi setiap umat ada ajalnya. Apabila ajal itu sudah datang tidak dapat mereka meminta diundurkan atau dimajukan sesaat juapun. (TMQ . al-A'raf [7]: 34).


Sehingga beruntunglah orang yang memanfaatkan dengan maksima modal ini. Caranya?Dengan berbuat amal kebajikan yang diredhai Allah SWT dan meninggalkan segala kemaksiatan yang dimurkai Allah SWT. Orang-orang yang beruntung adalah mereka yang menjalankan semua kewajipan dan menambahnya dengan ibadah-ibadah sunnah, kemudian selalu menjaga dirinya agar tidak berbuat kemaksiatan.Orang-orang yang mengalami kerugian adalah orang yang banyak melakukan hal-hal yang mubah tetapi amalannya tidak memperoleh hasil apapun dari modalnya yakni tidak memperoleh pahala mahupun dosa. Ia telah menyia-nyiakan modalnya yang berharga berupa umur, sehingga tidak memperoleh keuntungan apapun meskipun tidak melakukan kemaksiatan tetapi ia tetap merugi kerana menyia-nyiakan umurnya. Untuk menghindari kerugian ini, maka ia harus mengurangi hal-hal yang mubah dan memperbanyakkan ibadah sunnah.


Orang yang celaka adalah orang yang menggunakan umurnya untuk kemaksiatan serta meninggalkan kewajipan, dia telah membahayakan dirinya dengan menghabiskan umurnya tanpa memperoleh ganjaran apapun yang berupa pahala, malah menanggung kerugian dengan mengumpul dosa. Jika ia melakukan secara terus-menerus perbuatan ini, maka dosanya bertambah sedangkan pahalanya tidak bertambah dan di akhirat kelak timbangan dosanya lebih berat daripada pahalanya. Lalu,berapakah umur kita ketika ini? Berapa lagikah sisa umur kita? Dan apa yang akan kita perbuat untuk mengisi sisa umur itu agar tidak menjadi orang-orang yang merugi?

Wallahua'lam.

0 comments:

Post a Comment



 

MENGENAL HIZBUT TAHRIR